Biografi Jonathan Edwards

Posted by Biografi | Profil | Biodata Friday, 30 April 2010 0 comments
Biografi Jonathan Edwards
Nama Lengkap: Jonathan Edwards
Tanggal Lahir: Windson Timur, Connecticut, 5 Oktober 1703
Wafat: 22 Maret 1758  Princeton, New Jersey


Jonathan Edwards lahir pada tahun 1703 di Windson Timur, Connecticut.Ia adalah seorang teolog dan sarjana Amerika yang telah belajar bahasa Latin pada usia enam tahun dan fasih berbahasa Yunani dan Yahudi menjelang usia tiga belas tahun. Dia lulusan terbaik dari Yale University saat usia tujuh belas tahun dan menjadi tutor di sana. Edwards menjadi pelayan sejak usia dua puluh empat tahun.

Pada tahun 1734, dia mewartakan pesan Calvinis tentang kebenaran atas dasar iman semata dan berhasil menguasai kota kecil yang ada di wilayah Northampton, yaitu Massachusetts.  Karena karya pewartaannya begitu gencar, dalam waktu setahun hampir seluruh penduduk dewasa di kota itu bertobat. Namun demikian, hubungan Edwards dengan jemaatnya tidak begitu memuaskan.  Ia berusaha memperketat syarat-syarat menjadi anggota yang telah diperlunak oleh kakeknya, dan berakibat pemecatan dirinya oleh jemaat pada 1750.

Pada tahun berikutnya ia pergi ke Stockbridge sebagai penginjil bagi orang Indian dan sewaktu di sana ia menulis sejumlah tulisan (termasuk karya besarnya). Pada tahun 1757 ia diundang menjadi rektor New Jersey College (sekarang Princenton University) dan dengan rasa berat ia menerimanya, karena tidak lama setelah itu ia meninggal.

Edwards adalah pembela dan sekaligus pengkritik kebangunan rohani di zamannya, hal ini terlihat dari khotbahnya yang terkenal, Sinners in The Hand of an Angry God (Orang-orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka), yang menekankan secara khusus tentang murka Allah, menyebabkan kebangunan rohani.Ia juga seorang lawan yang tidak kenal mundur terhadap Arminianisme.

Edwards pernah disebut filsuf Amerika terbesar, karena karya Freedom of Willnya. Ia juga adalah bapak teologi New England. Pembica yang penting dari teologi ini adalah putranya Jonathan Edwards Junior (1745-1801), yang pada waktunya menghasilkan Teologi New Heaven dari Charles Finney.

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Jonathan_Edwards

Biografi Ustadz Abu Bakar Ba'asyir

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Abu Bakar Ba'asyir

Nama Lengkap: Abu Bakar Ba'asyir bin Abu Bakar Abud
Tanggal Lahir: Jombang, 17 Agustus 1938

Abu Bakar Ba'asyir  lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938. Beliau adalah seorang Ustadz Muslim keturunan Arab asal Indonesia. Ba'asyir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren  Islam Al Mu'min.

Ustadz Abu Bakar Ba'asyir merupakan lulusan dari Pondok Pesantren  Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1959) dan alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah (1963). Perjalanan karirnya dimulai dengan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo. Selanjutnya adalah menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo, terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961), Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, memimpin Pondok Pesantren Al Mu'min (1972) dan Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), 2002.


Ustadz Abu Bakar Ba'syir
mendirikan pondok pesantren Al-Mukmin pada tanggal 10 maret 1972 bersama Abdulah Sungkar, Yoyo Roswadi,  Abdul Qohar H. Daeng Matase dan Abdullah Baraja. Berlokasi di jalan Gading Kidul 72 A, Desa Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, seluas 8.000 meter persegi.


Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_Ba%27asyir

Biografi Ahmad Wahib - Budayawan dan Pemikir Islam

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Ahmad Wahib - Budayawan dan Pemikir Islam

Ahmad Wahib Lahir di Sampang, 9 November 1942 dan meninggal dunia pada tahun 1973 tepatnya tanggal 31 maret di Jakarta. Beliau adalah seorang budayawan dan pemikir Islam. Semasa hidupnya, Ahmad Sihab banyak membuat catatan perenungan yang juga telah dibukukan dalam Pergolakan Pemikiran Islam.

Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam, Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah, yaitu dari sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang produktif, analitis dan kreatif. (Catatan Harian 16 Agustus 1970)

Berikut Cuplikan Catatannya:

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. (Catatan Harian 9 Oktober 1969)

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Wahib

Biografi Rhoma Irama - Raja Dangdut

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 28 April 2010 1 comments
Biografi Rhoma Irama - Raja Dangdut

Nama Lengkap: Rhoma Irama
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Agama: Islam
Tanggal Lahir: Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Desember 1946

Rhoma Irama dikenal sebagai penyanyi dangdut senior dan juga bintang film. Semula lebih dikenal dengan nama Oma Irama, namun setelah pulang dari menjalankan ibadah haji namanya berganti, R.H. Oma Irama atau Rhoma Irama.

Bersama grup musik Soneta yang dipimpinnya, penyanyi yang banyak membintangi film-film dakwah Islam ini telah menjadi legenda musik dangdut Indonesia dan memplokamirkan musiknya sebagai musik dakwah (Voice of Moslem) sejak 1973. Keseluruhan lagu yang jumlahnya ratusan diciptakan sendiri oleh Beliau.

Rhoma Irama merupakan suami penyanyi dangdut Rica Rachim, yang dinikahinya sekitar tahun 1984. Pernikahan itu pun berlangsung diam-diam, karena pada saat itu Rhoma masih berstatus suami Veronica (alm). Baru tahun 1985 Rhoma menceraikan Veronika secara resmi.

Sejarah seperti terulang, Rhoma juga pernah menikah secara sirri (diam-diam) dengan aktris Lely Angraeni atau Angel Lelga). Pernikahan mereka tidak tercium media, baru diketahui setelah resmi Rhoma menceraikan Angel lewat konferensi pers.

Rhoma juga terlibat perseteruan dengan penyanyi Goyang Ngebor, Inul Daratista, yang oleh Bang Haji dianggap telah mencemari dangdut yang telah dibangunya dengan goyangan-goyangan erotis. Perseteruan Bang Haji-Inul ini semakin melebar dan menimbulkan pro dan kontra di kalangan aktris, selain pada saat itu juga tengah diperbincangkan undang-undang anti-pornografi dan pornoaksi.

Saat Ini Rhoma Irama masih eksis bersama Sonetanya dan aktif memimpin PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia), selain sejumlah organisasi sosial dan dakwah yang digelutinya.

Referensi: Kapanlagi.com

Biografi Panda Nababan

Posted by Biografi | Profil | Biodata Friday, 23 April 2010 0 comments
Biografi Panda Nababan

Panda Nababan lahir di Siborong-borong,Tapanuli Utara, 13 Februari 1944. Beliau pernah menjabat Wakil Pemimpin Umum Majalah Forum Keadilan, 1990-1999 dan sampai saat ini sebagai pemegang saham majalah tersebut.


Ia pernah bekerja sebagai Wartawan Harian Umum Warta Harian, Jakarta, 1969-1970; Redaktur Harian Umum Sinar Harapan, Jakarta, 1970-1987; Wakil Pemimpin Umum Harian Umum Prioritas, Jakarta, 1987-1988 dan Kepala Litbang Media Indonesia, Jakarta, 1988-1989.


Panda Nababan  juga aktif dalam beberapa organisasi, Anggota GMKI, Medan, 1963; Ketua Departemen Organisasi Gerakan Mahasiswa Bung Karno, Jakarta, 1963-1966; Anggota PWI, Jakarta, 1970-1975; Anggota PDI, Jakarta, 1993-1998 dan
Anggota PDIP, Jakarta, 1998-sekarang.

Biodata Panda Nababan:


Nama: Panda Nababan
Lahir :Siborong-borong,Tapanuli Utara, 13 Februari 1944

Agama :Kristen

Istri:Ria Purba

Anak:
Putri Nababan, Jurusan Masak, Le Cordon Bleu University, Perancis
Putra Nababan, Jurusan Jurnalistik di Nebraska, USA
Anggi Nababan, SMP Global, Bintaro

Pendidikan Formal
SMP Nasrani, Medan, Sumatera Utara, 1956-1959
SMA Nasrani, Medan, 1959-1962
Universitas Nommensen, Medan, 1962-1963
Universitas Bung Karno, Jakarta, 1963-1966
Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta, 1968-1969
Jurnalistik NRC Handelsblaad, Rotterdam, 1979

Pendidikan Non Formal
Kursus Manajemen LPPM-2, Jakarta, 1981
Kursus Manajemen LPPM-2, Jakarta, 1983
Kursus Manajemen LPPM-2 bidang Problem Solving, Jakarta, 1987

Ayah :
Jonathan Laba Nababan (Guru)
Ibu :
Erna Intan Dora Lumbantobing (Guru)

Asal Keanggotaan

Keanggotaan Sekarang
Anggota Bamus DPR RI
Anggota Fraksi PDIP DPR RI
Anggota Fraksi PDIP MPR RI
Anggota Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI
Anggota Sub Komisi Hukum DPR RI
Anggota Sub Komisi Otonomi Daerah DPR RI
Anggota Sub Komisi Dalam Negeri DPR RI
Anggota Sub Komisi Pertanahan DPR RI
Anggota Sub Komisi Kepegawaian DPR RI

Pengalaman Lembaga Negara
-


Pengalaman Kerja:

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
A-125
Wartawan Harian Umum Warta Harian, Jakarta, 1969-1970
Redaktur Harian Umum Sinar Harapan, Jakarta, 1970-1987
Wakil Pemimpin Umum Harian Umum Prioritas, Jakarta, 1987-1988
Kepala Litbang Media Indonesia, Jakarta, 1988-1989
Wakil Pemimpin Umum Majalah Forum Keadilan, 1990-1999
Pemegang Saham Majalah Forum Keadilan, Jakarta, 1990-sekarang

Organisasi
Anggota GMKI, Medan, 1963
Ketua Departemen Organisasi Gerakan Mahasiswa Bung Karno, Jakarta, 1963-1966
Anggota PWI, Jakarta, 1970-1975
Anggota PDI, Jakarta, 1993-1998
Anggota PDIP, Jakarta, 1998-sekarang

Penguasaan Bahasa
Batak, Aktif
Inggris, Aktif

Hobi
Lari
Penghargaan
1976 : Adinegoro Trophy
       

Referensi: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/panda-nababan/index.shtml

Biografi Kapitan Pattimura - Pahlawan Nasional dari Maluku

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Kapitan Pattimura - Pahlawan Nasional dari Maluku

Nama Lengkap : Kapitan Pattimura

Nama Asli: Thomas Matulessy

Tanggal Lahir: Negeri Haria, Pulau Saparua-Maluku, tahun 1783

Meninggal:
Benteng Victoria, Ambon, 16 Desember 1817

Karir Militer:
Mantan Sersan Militer Inggris

Kapitan Pattimura
yang bernama asli Thomas Matulessy, ini lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap. Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya.

Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Beliau memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali rahim ibu yang melahirkannya.

Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak wilayah Indonesia yang pernah dikuasai oleh dua negara kolonial secara bergantian. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan, tanpa perebutan. Demikianlah wilayah Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi oleh Belanda.

Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Pada tahun 1798, wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika pemerintahan Inggris berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan terakhir berpangkat Sersan.

Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada tahun 1816, Belanda kembali lagi berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa, rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. Berbagai bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku.

Di Saparua, Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 mei 1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg.

Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur.

Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya.

Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, eksekusi pun dilakukan.

Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. Dari perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama bangsa dan negara ini.

Referensi:http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/pattimura/index.shtml

Biografi Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII

Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII, meninggal dunia Jumat 11 Juni 2004 pukul 08.15 WIB di Rumah Sakit Dr Oen. Raja Keraton Kasunanan Surakarta yang sebelumnya bernama Raden Mas Gusti Suryo Guritno dinobatkan menjadi raja tanggal 12 Juli 1945, pada usia 20 tahun, dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalago Abdurahman Sayidinan Panatagama XII, kemudian disingkat Paku Buwono (PB XII). Ia raja terlama dalam Dinasti Mataram.


Sepanjang kekuasaan Dinasti Mataram, PB XII adalah raja yang paling lama memerintah (12 Juli 1945-11 Juni 2004). Sejak dinobatkan menjadi Raja Kraton Kasunanan Surakarta sampai wafat tidak mengangkat permaisuri dan hanya memiliki garwa ampil (selir) dengan 37 orang anak.

PB XII adalah raja di kerajaan penerus Dinasti Mataram, yang terpecah menjadi dua, yakni Keraton Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta, selepas Perjanjian Giyanti. Dalam beberapa waktu terakhir ini, praktis tidak ada aktivitas berat yang dilakukan Sinuhun, termasuk pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh politik seperti yang sebelumnya biasa dilakukannya.

PB XII di masa kecilnya masuk sekolah ELS (Europeesche Lagere School) di Pasar Legi, Solo. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra Sinuhun Paku Buwono X yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. PB XII termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman berlangsung akrab dan di sekolah pun bergaul tanpa memandang status sosial yang disandangnya.

Mulai tahun 1938 PB XII terpaksa berhenti sekolah agak lama, sekitar lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat mewakili Sinuhun Paku Buwono X pergi ke Belanda menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan Tahta Ratu Wilhelmina.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS) Bandung bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar, pecah perang Asia Timur Raya, dan waktu itu bala tentara Jepang menang melawan sekutu dan Indonesia pun jatuh ke tangan Jepang.

Paku Buwono XI memintanya pulang dari Bandung ke Solo. PB XII pun menurut, tak mau membantah perintah dari ayahandanya tersebut. Ternyata, sesaat berada kembali di Kraton Kasunanan Surakarta, ia harus menerima kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, 1 Juni 1945, ayahandanya --Paku Buwono XI-- wafat.

Kemudian, ia dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahandanya pada 12 Juli 1945. Lalu, hanya sebulan setelah naik tahta, Republik Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya oleh Soekarno-Hatta. Oleh karena itu, Paku Buwono XII disebut pula sebagai Sinuhun Hamardika yang artinya raja di zaman kemerdekaan.

Selama revolusi fisik PB XII memperoleh pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jendral dari Presiden Soekarno. Kedudukannya itu menjadikan ia sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan pertempuran terutama saat pecah agresi Belanda ke dua.

Dalam rangka mendukung perjuangan bersenjata merebut kemerdekaan tersebut, Kraton Solo dan Yogyakarta banyak berperan dalam membantu memasok logistik maupun menyumbang berbagai perlengkapan lain, seperti mobil, persenjataan serta dana.

Atas perannya tersebut, PB XII memperoleh Bintang Gerilya dan piagam sekaligus medali penghargaan dari Dewan Harian Angkatan 1945 pada 28 Oktober 1995 di Kraton Surakarta.

RM Yuli Sulistio Wibowo, Sekretaris Pribadi PB XII menuturkan bahwa semasa hidupnya PB XII melebur Kraton Solo menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan tetap konsisten perhatiannya terhadap rakyat.


Biodata Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII:

Nama:Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XII
Nama Kecil: Raden Mas Gusti Suryo Guritno

Gelar: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalago Abdurahman Sayidinan Panatagama XII, disingkat Paku Buwono (PB XII).

Lahir: Surakarta, 14 April 1925
Wafat Surakarta, 11 Juni 2004
Ayah: Paku Buwono XI
Ibu:Gusti Kanjeng Ratu Pabu Buwono, putri Kanjeng Pangeran Puspodiningrat Paku Buwono IX

Garwa Ampil (Selir):
5 orang

Anak:
37 orang

Pendidikan:
ELS (Europeesche Lagere School) di Pasar Legi, Solo
Hogere Burger School (HBS) Bandung

Jabatan:
Raja Keraton Kasunanan Surakarta (12 Juli 1945-11 Juni 2004)

Penghargaan:
Pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jendral
Bintang Gerilya
Medali penghargaan dari Dewan Harian Angkatan 1945 pada 28 Oktober 1995

Referensi:
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/p/pb-xii/index.shtml

Biografi Sule - Pelawak OVJ

Posted by Biografi | Profil | Biodata Thursday, 22 April 2010 4 comments
Biografi Sule - Pelawak Opera Van Java

Sule memang telah mantap untuk menjadi seorang komedian. Pelawak berambut gondrong dan diwarna pirang itu mengawali komitmennya itu dengan terlebih dahulu menimba ilmu di sebuah sekolah seni di Bandung.

"Dari dulu emang sekolah seni di Bandung dan suka manggung dalam grup SOS. Tahun 2004 menang di API TPI," kata Sule.

Diantara pasangan soulmate yang menjadi peserta Superstar Show, pasangan Sule dengan Jaja, sopirnya, nampak begitu menonjol dibanding yang lainnya. Mereka bukan hanya lucu, tetapi dari segi kualitas suara pun termasuk lumayan. Sule yang selama ini dikenal sebagai pelawak, telah membuktikan bahwa ia juga punya bakat dalam tarik suara. “Di PD-PDin deh, mungkin ini suatu tantangan buat saya. Karena bernyanyi dikamar mandi sama nyanyi dipentas itu beda. Ada grogi, deg-degan, ya pokoknya susah diungkapkan.

Kini, seiring dengan karirnya yang mulai menanjak, otomatis pemasukannya pun makin bertambah. Dan Sule rupanya lebih suka menginvestasikan uangnya untuk membeli rumah.

"Sejak menang API (Akademi Pelawak Indonesia), gue udah beli mobil sebelum beli rumah. Soalnya menurut gue saat itu mobil lebih penting. Sekarang udah punya rumah di Bandung, mau bikin rumah keempat," imbuhnya.

Walau punya rumah di Bandung, Sule memilih tinggal di Jakarta. Hal itu dilakukannya agar sang istri bahagia.

"Bini nggak mau (tinggal di Bandung),nggak betah katanya. Di Bandung ada dua rumah untuk usaha warnet, salon, clothing, jual-beli HP. Sekarang mau bikin studio musik, itu juga sekalian buat kegiatan istri. Daripada dia keluar main yang nggak perlu," tegas pria penggemar berat Rhoma.

Referensi:
http://pangeran229.wordpress.com/2009/08/02/sule-opera-van-java/
http://www.kapanlagi.com/h/sule-hobi-beli-rumah.html

Biografi Ahmad Dhani

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Ahmad Dhani - Biografi Musisi

Ahmad Dhani
lahir di Surabaya pada tanggal 26 Mei 1972, Ahmad Dhani, dikenal sebagai pentolan grup Dewa 19, pencipta lagu dan juga sebagai produser rekaman. Sosok sebagai musisi dikenal penuh kontroversial dan sensasi, baik dalam syair lagunya maupun tingkah polah kehidupan sehari-harinya. Sosok kontroversinya diperlihatkan lewat syair-syair lagunya yang 'terlalu dalam' dan memiliki makna bias hingga memunculkan pertentangan.

Pria bernama lengkap Dhani Ahmad Prasetyo ini juga pernah diadukan ke Polisi oleh penulis, Yudhistira ANM Massardi, karena dianggap menjiplak judul Arjuna Mencari Cinta yang digunakan untuk salah satu judul album Dewa 19. Meski melalui perseteruan panjang, Dhani akhirnya bersedia meminta maaf di media dan berakhir dengan perdamaian.

Dhani kini masih tetap eksis bersama Dewa 19, meski beberapa kali terjadi penggantian personel. Bahkan semakin melebarkan sayap dengan bendera Republik Cinta Artis Management, yang menaungi grup-grup baru miliknya, The Rock, Dewi-Dewi, White Snow, Andra&The Backbone dan Dewa 19 sendiri.

Dhani pernah menikah dengan Maya Estianty atau populer dengan nama Maia Ahmad. Dari perkawinannya dengan perempuan asal Surabaya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak laki-laki, yang diberi nama Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Ahmad Abdul Qodir Jaelani. Nama-nama tersebut diambil dari nama-nama tokoh sufi yang menjadi idola Dhani.

Pernikahan Dhani-Maia mulai retak setelah Maia semakin populer bersama Ratu. Dhani mengklaim Maia terlalu sibuk dan menelantarkan anak-anak mereka. Setelah melalui perseteruan panjang di media dan pengadilan agama, mereka resmi bercerai pada 23 September 2008. Hak asuh ketiga anak mereka, Al, El, dan Dul jatuh ke tangan Maia. Untuk keputusan itu, Dhani berniat mengajukan banding.

Meski hak asuh anak jatuh ke tangan Maia, namun sampai detik ini ketiga putra hasil pernikahannya dengan Maia, masih tinggal bersama Dhani.

Dhani yang pernah dilaporkan oleh pakar telematika Roy Suryo terkait penggunaan bendera merah putih pada video klip Dewa 19 ini pada bulan Februari 2009, menjelang hari kasih sayang menjadi sangat populer di dunia maya. Bersama nama Mulan Jameela, menjadi nama yang paling banyak dicari di internet.

Menjelang Pemilu 2009, banyak artis yang maju sebagai caleg (calon legislatif) bahkan ada pula yang berniat menjadi presiden. Lewat partai PKB, nama Dhani menjadi salah calon yang akan diajukan sebagai calon presiden. Namun, Dhani sendiri lebih memilih berkarir di musik dan mengurus ketiga putranya ketimbang berkiprah di dunia politik.

Bertepatan dengan ultahnya yang ke-37 tahun, Dhani digaet oleh produk asal Inggris, Lee Cooper untuk mengeluarkan t-shirt khusus yang bertajuk Lee Cooper - Ahmad Dhani Collaboration.


Tangan dingin Dhani dalam menghasilkan talenta-talenta baru di dunia musik Indonesia, patut diacungi jempol. Setelah The Virgin, kali ini giliran The Moon. Selain itu masih ada band-band baru lainnya. Untuk itu, Dhani mengeluarkan album kompilasi bertajuk NEW BEGINNING 09 pada awal Juni 2009. Album ini sendiri menampilkan 9 band yang bernaung di bawahnya, The Virgin, The Law, Lucky Laki, The Moon, Zewex & The Cuncuzna, Airplay, Rafflesia, Kamusuka, dan Tiramizu.

Gosip hubungan antara Ahmad Dhani dan Mulan memang sudah lama berhembus. Pada Agustus 2009, gosip ini kembali santer terdengar. Pemicunya Dhani yang mengatakan jika ia sudah memiliki istri baru. Dan banyak orang menghubungkan istri baru ini dengan nama Mulan. Padahal saat itu Dhani mengatakan sambil bercanda. Tak ada yang tahu hingga kini, mengenai kebenaran berita ini.

Referensi:
http://selebriti.kapanlagi.com/ahmad_dhani/

Biografi Dewi Sartika

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 21 April 2010 0 comments
Biografi Dewi Sartika

Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884. Beliau adalah tokoh perintis pendidikan  untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia  tahun 1966.


Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.

Ketika sudah mulai remaja, Dewi Sartika kembali ke ibunya di Bandung. Jiwanya yang semakin dewasa semakin menggiringnya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong pula oleh pamannya, Bupati Martanagara, pamannya sendiri, yang memang memiliki keinginan yang sama. Tetapi, meski keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, tidak menjadikannya serta merta dapat mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang kaum wanita pada waktu itu, membuat pamannya mengalami kesulitan dan khawatir. Namu karena kegigihan semangatnya yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika bisa meyakinkan pamannya dan diizinkan mendirikan sekolah untuk perempuan.


Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru.


Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu

Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara, pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.

Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Sartika

Biografi Patih Gajah Mada

Posted by Biografi | Profil | Biodata Tuesday, 20 April 2010 0 comments
Biografi Patih Gajah Mada

Gajah Mada ialah salah satu Patih, kemudian Mahapatih, Majapahit yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Tidak diketahui sumber sejarah mengenai kapan dan di mana Gajah Mada lahir. Ia memulai karirnya di Majapahit sebagai bekel. Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta & Sadeng pun akhirnya takluk. Patih Gajah Mada kemudian diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi sebagai patih di Majapahit (1334).


Pada waktu pengangkatannya ia mengucapkan Sumpah Palapa, yakni ia baru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang diartikan kenikmatan duniawi jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton berikut [1]: “ Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa ”

(Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.)

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.


Dalam Kidung Sunda[2] diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayahanda dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya.

Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.


Disebutkan dalam Negarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah gering (sakit). Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Hayam Wuruk kemudian memilih enam Mahamantri Agung, untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara.

Referensi: http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-gajah-mada.html

Biografi Sunan Gresik - Biodata Maulana Malik Ibrahim

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Sunan Gresik - Biodata Maulana Malik Ibrahim
 
Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan di desa Gapura, kota Gresik, Jawa Timur.


Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari Maghrib, atau Maroko di Afrika Utara.

Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14.

Dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, “Mulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang’gala”.

Namun demikian, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P. Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa ia berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.

Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW; melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.


Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior diantara para Walisongo lainnya.

Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.

Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.

Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.

Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.

Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.

Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah.

Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasi makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah.


Menurut legenda rakyat, dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia. Maulana Malik Ibrahim Ibrahim dan Maulana Ishaq disebutkan sebagai anak dari Maulana Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Maulana Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya bersama-sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan; dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai.

Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun. Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat terkadang juga disebut dengan nama Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.

Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Sebagai tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.


Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim.

Referensi: http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-gresik-maulana-malik-ibrahim.html

Biografi Sunan Ampel - Biografi Wali Songo

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Sunan Ampel

Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 Masehi di Champa.Para ahli kesulitan untuk menentukan Champa disini, sebab belum ada pernyataan tertulis maupun prasasti yang menunjukkan Champa di Malaka atau kerajaan Jawa. Saifuddin Zuhri (1979) berkeyakinan bahwa Champa adalah sebutan lain dari Jeumpa dalam bahasa Aceh, oleh karena itu Champa berada dalam wilayah kerejaan Aceh. Hamka (1981) berpendapat sama, kalau benar bahwa Champa itu bukan yang di Annam Indo Cina, sesuai Enscyclopaedia Van Nederlandsch Indie, tetapi di Aceh.

Ayah Sunan Ampel atau Raden Rahmat bernama Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Ibunya bernama Dewi Chandrawulan, saudara kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah, istri raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Istri Sunan Ampel ada dua yaitu: Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah, dikaruniai dua orang anak yaitu: Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah (sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro) dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu: Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajat atau kadang-kadang disebut Sunan Sedayu.

Sunan Ampel
dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi dan alim, sangat terpelajar dan mendapat pendidikan yang mendalam tentang agama Islam. Sunan Ampel juga dikenal mempunyai akhlak yang mulia, suka menolong dan mempunyai keprihatinan sosial yang tinggi terhadap masalah-masalah sosial.

Referensi : http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-sunan-ampel.html

Biografi Sunan Bonang - Wali Songo

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri,
yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.


Sunan Bonang kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa

Referensi :http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-sunan-bonang.html

Biografi Sunan Drajat - Biografi Wali Songo

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan jejaknya.

Semasa muda ia dikenal sebagai Raden Qasim, Qosim, atawa Kasim. Masih banyak nama lain yang disandangnya di berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat.

Ada diceritakan, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.

Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan cakalang.

Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.

Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.

Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.

Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.

Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.

Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.

Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.

”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.

Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.

Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ‘’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.

Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.

Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.

Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.

Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.

Referensi : http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-sunan-drajat.html

Biografi Wilhelm Hegel

Posted by Biografi | Profil | Biodata Sunday, 18 April 2010 0 comments
Biografi dan Biodata Georg Friedrich Wilhelm Hegel

Georg Friedrich Wilhelm Hegel Lahir di Stuttgart 27 Agustus 1770. Ia merupakan filsuf Jerman: tokoh yang paling terkenal dari aliran idealisme spekulatif yang berkembang sekitar tahun 1800 di Jerman.

Karya-karya pemikirannya menunjukkan ketajaman serta keseimbangan daya berpikir yang luar biasa. Bagi Hegel tugas utama filsafat adalah memahami kenyataan sebagaimana adanya. Dia berkeyakinan bahwa kebenaran secara menyeluruh atau bagian-bagian dari kebenaran dapat ditelaah melalui penalaran yang wajar serta dimengerti.

Referensi: Buku “SMA Kelas 1 Sosiologi Kurikulum Bebasisi Kompetesi” Halaman 37 Penerbit: Yudhistira

TAGS: Biografi Georg Friedrich Wilhelm Hegel, Biografi Wilhelm Hegel, biodata  Wilhelm Hegel, riwayat hidup, profil

Biografi Bapak Susno Duaji

Posted by Biografi | Profil | Biodata Thursday, 15 April 2010 0 comments
Biodata, Biografi dan Profil Susno Duaji

Komjen Pol Drs. Susno Duadji, S.H, M.Sc.
(lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 1 Juli 1954; umur 55 tahun) adalah mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim Polri) yang menjabat sejak 24 Oktober 2008 hingga 24 November 2009. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dan Kapolda Jawa Barat.

Susno Duadji 
merupakan lulusan Akabri Kepolisian dan mengenyam berbagai pendidikan antara lain PTIK, S-1 Hukum, S-2 Manajemen, dan Sespati Polri. Ia juga mendapat kursus dan pelatihan di antaranya Senior Investigator of Crime Course (1988), Hostage Negotiation Course (Antiteror) di Universitas Louisiana AS (2000), Studi Perbandingan Sistem Kriminal di Kuala Lumpur Malaysia (2001), Studi Perbandingan Sistem Polisi di Seoul, Korea Selatan (2003), serta Training Anti Money Laundering Counterpart di Washington, DC, AS.

Susno Duaji
adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Duadji, seorang sopir, dan ibunya, Siti Amah seorang pedagang kecil. Ia adalah suami dari Herawati dan bapak dari dua orang putri.

Berikut riwayat karir Susno Duadji  sebelum menjabat sebagai Kabareskrim Polri.

    * PAMA POLRES WONOGIRI (1978)PAMA POLRES WONOGIRI (1978)
    * KABAG SERSE POLWIL BANYUMAS (1988)
    * WAKA POLRES PEMALANG (1989)
    * WAKA POLRESTA YOGYAKARTA (1990)
    * KAPOLRES MALUKU UTARA (1995)
    * KAPOLRES MADIUN (1997)
    * KAPOLRESTA MALANG (1998)
    * WAKAPOLWILTABES SURABAYA (1999)
    * WAKASUBDIT GAKTIP DIT SABHARA POLRI(2001)
    * KABID KORDILUM BABINKUM (2001)
    * KABID BID RAPKUM DIV BINKUM POLRI (2002)
    * PATI (DALAM RANGKA TUGAS LUAR) FORMASI MABES POLRI WAKIL KEPALA PPATK) (2004)
    * KAPOLDA JABAR (2008)

Lulus dari Akademi Kepolisian 1977, Susno Duadji yang menghabiskan sebagian karirnya sebagai perwira polisi lalu lintas, sudah juga mengunjungi 90 negara untuk belajar menguak kasus korupsi. Karirnya mulai meroket ketika dia dipercaya menjadi Wakapolres Yogyakarta dan berturut-turut setelah itu Kapolres di Maluku Utara, Madiun, dan Malang. Susno mulai ditarik ke Jakarta, ketika ditugaskan menjadi kepala pelaksana hukum di Mabes Polri dan mewakili institusinya membentuk KPK pada tahun 2003. tahun 2004 dia ditugaskan di Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK ). Sekitar tiga tahun di PPATK, Susno kemudian dilantik sebagai Kapolda Jabar dan sejak 24 Oktober 2008, dia menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri menggantikan Bambang Hendarso Danuri. Kode Susno sejak itu dikenal dengan Truno 3, atau orang nomor tiga paling berpengaruh di Polri setelah Kapolri dan Wakapolri.

Kontroversi Susno Duadji


1.Pernyataan Susno yang berbunyi “Ibaratnya di sini buaya disitu cicak. Cicak kok melawan buaya” telah menimbulkan kontroversi hebat di Indonesia. Akibat dari pernyataan ini muncul istilah “cicak melawan buaya” yang sangat populer. Istilah ini juga memicu gelombang protes dari berbagai pihak dan membuat banyak pihak yang merasa anti terhadap korupsi menamakan diri mereka sebagai Cicak dan sedang melawan para “Buaya” yang diibaratkan sebagai Kepolisian.
 
 2.Kode “Truno 3″ disebut dalam percakapan yang disadap oleh KPK sehubungan dengan kasus bank Century.
  
3.Pernyataan Susno yang berbunyi ”Jangan Pernah Setori Saya” juga sangat terkenal saat beliau menjabat sebagai kapolda Jabar.

Pada tanggal 5 November 2009, Susno Duadji menyatakan mundur dari jabatannya, namun mulai 9 November 2009 ia kembali aktif sebagai Kabareskrim Polri. Pada 24 November 2009, Kapolri resmi memberhentikannya dari jabatan Kabareskrim.

Source: http://iwansulistyo.com/susno-duadji

Biografi Carl Heinrich Marx

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 7 April 2010 0 comments
Biografi dan Biodata Carl Heinrich Marx
Carl Heinrich Marx adalah filsuf, ideolog, pencetus, paham marxisme-komunisme melalui bukunya Manifest Der Kommunistischen Partei (Manifesto Komunisme, 1848). Ia juga berpengaruh besar dalam paham pembentukan Negara. Pengaruhnya tidak dapat dipisahkan dari andil Friedrich Engels.

Marx lahir di Trier, Jerman. Ayahnya pengacara yang mengagumi Immanuel Kant dan Voltaire, serta ambil bagian dalam perubahan sistem perundangan di Rusia.

Marx menjadi mahasiswa Universitas Bonn (1835) selama setahun, untuk kemudia masuk Universitas Berlin (1836), tempat Ia belajar hukum dan filsafat. Pada tahun 1867 Marx menerbitkan bukunya yang berjudul Das Kapital (Kritik atas Kapitaslisme) jilid pertama. Ini merupakan karya penting Karl Marx selama hidupnya, sedangkan jilid kedua dan ketiga dari buku tersebut diterbitkan oleh Engels setelah Marx meninggal dunia.

Tahun-tahun terakhir kehidupan Marx amat sepi karena semua kawannya tersaing dari nya. Marx seakan mengasingkan diri dalam pekerjaan teoritisnya. Ketika Ia meninggal hanya delapan orang yang hadir dalam pemakamannya termasuk Engels.

Referensi: Buku KBK “SOSIOLOGI SMA Kelas 1”  Halaman 37 Penerbit: Yudhitira.

TAGS: Biografi Carl Marx, Biodata, Profil Carl Marx, Biografi Karl Marx, Karl Marx Biodata, Biografi Carlk Heinrich Marx





Biografi Abdoel Moeis

Posted by Biografi | Profil | Biodata Thursday, 1 April 2010 0 comments
Biografi Abdoel Moeis

Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam. Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

Karir Beliau

Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim. Dia sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kaoem Moeda sebelum mendirikan surat kabar Kaoem Kita pada 1924. Selain itu ia juga pernah aktif dalam Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan

Riwayat Perjuangan

    * Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express
    * Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara
    * Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat
    * Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institut Teknologi Bandung (ITB)

Karya Sastra

    * Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)
    * Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
    * Surapati (novel, 1950)
    * Robert Anak Surapati(novel, 1953)

Terjemahannya

    * Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
    * Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
    * Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
    * Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)

TAGS: Biografi Abdoel Moeis,biodata Abdoel Moeis, profil Abdoel Moeis, riwayat hidup Abdul Muis

Referensi: http://biografitokohdunia.wordpress.com/2009/11/18/abdoel-moeis/