Biografi Auguste Comte (1798-1857) - Bapak Sosiologi

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 17 March 2010 0 comments
Biografi Auguste Comte (1798-1857) - Bapak Sosiologi

Nama lengkap Auguste Comte adalah Isidore Auguste Marie Francois Xavier. Beliau adalah filsuf dan ilmuwan sosial terkemuka yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu kemasyarakatan atau sosiologi. Comte lahir di kota Montpellier di Perancis selatan dari keluarga kelas menengah konservatif. Comte menerima didikan ilmiah yang baik di Ecole Polythecnique di Paris, sebuah pusat pendidikan berhaluan liberal.

Comte mencetuskan suatu  sistem ilmiah yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan baru, yaitu sosiologi. Pandangan Comte atas sosiologi sangat pragmatis. Ia berpendapat bahwa sesungguhnya analisis untuk membedakan "statika" dan "dinamika" sosial , serta analisa masyarakat sebagai suatu sistem yang saling tergantung haruslah didasarkan pada konsensus. Paradigma Fungsionalis dan paradigma ilmiah alamiah yang dirumuskan oleh Comte tetap memberi warna menonjol dalam sosiologi saat ini.

Auguste Comte dengan bukunya "Course de Philosophie Positive" menerangkan bahwa pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat harus melalui urutan-urutan tertentu yang kemudian akan sampai pada tahap akhir yaitu tahap ilmiah.

Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi karena dialah yang pertama kali memakai istilah sosiologi dan mengkaji sosiologi secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad ke-19 (1856).

Referensi: Buku Sosiologi kelas 1 SMA  halaman 6 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Penerbit Yudhistira

Biografi Tumpak Hatorangan Panggabean - Ketu KPK

Posted by Biografi | Profil | Biodata Monday, 8 March 2010 0 comments
Biografi Tumpak Hatorangan Panggabean - Ketu KPK

Karirnya dimulai sejak 1973 sampai 2003 sebagai Jaksa di Kejaksaan Agung RI. Dia menjabat Kajari Pangkalan Bun (1991 - 1993), Asintel Kejati Sulteng (1993 - 1994), Kajari Dili (1994 - 1995) dan Kasubdit Pengamanan Ideologi dan Politik Pada JAM Intelijen (1996 - 1997).


Kemudian menjabat Asintel Kejati DKI Jakarta (1997 - 1998), Wakajati Maluku (1998 - 1999), Kajati Maluku (1999 - 2000), Kajati Sulawesi Selatan (2000 - 2001) dan terakhir sebagai Sesjampidsus (2001 - 2003).

Panggabean telah mengikuti banyak pelatihan, seminar dan lokakarya. Di antaranya: - Diklat Analisis Kebijaksanaan (1994); Diklat Peningkatan Mutu Kepemimpinan Aparatur (1995); Diklat SPAMEN (1996), Diklat Pembentukan Jaksa (1974); Diklat Tar.Luhkum (1983), Diklat Jaksa Spesialis (1985); Diklat Suspa Lidik (1980); dan Diklat Suspa Intelstrat Tk. 1 (1982)

Dia telah menerima penghargaan Satya Lencana Karua Satya XX Tahun (1997) dan Satya Lencana Karya Satya XXX (2003)

Nama:Tumpak Hatorangan Panggabean, SH
Lahir:Sanggau, Kalimantan Barat, 29 Juli 1943
Agama:Kristen Protestan

Isteri:Roosvi Sertiana Sianturi
Anak:Tiga orang

Pendidikan:
S1 Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak

Karir:
- 1973 - 2003 Jaksa di Kejaksaan Agung RI
- Kajari Pangkalan Bun (1991 - 1993)
- Asintel Kejati Sulteng (1993 - 1994)
- Kajari Dili (1994 - 1995)
- Kasubdit Pengamanan Ideologi dan Politik Pada JAM Intelijen (1996 - 1997)
- Asintel Kejati DKI Jakarta (1997 - 1998)
- Wakajati Maluku (1998 - 1999)
- Kajati Maluku (1999 - 2000)
- Kajati Sulawesi Selatan (2000 - 2001)
- Sesjampidsus (2001 - 2003)

Pelatihan, Seminar dan Lokakarya:
- Diklat Analisis Kebijaksanaan (1994),
- Diklat Peningkatan Mutu Kepemimpinan Aparatur (1995),
- Diklat SPAMEN (1996), Diklat Pembentukan Jaksa (1974),
- Diklat Tar.Luhkum (1983), Diklat Jaksa Spesialis (1985),
- Diklat Suspa Lidik (1980), Diklat Suspa Intelstrat Tk. 1 (1982)

Penghargaan:
- Satya Lencana Karua Satya XX Tahun (1997)
- Satya Lencana Karya Satya XXX (2003)

Source: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/tumpak-hatorangan/index.shtml

Biografi Titiek Puspa - Artis

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Titiek Puspa - Artis

Titiek Puspa ketika kecil saat masih bernama Soemarti, berdua bersama seorang dari 11 saudara kandung lainnya, suka sekali bernyanyi. Mereka sering nembang musik kesenian tradisional Jawa. Ketika duduk di bangku SMP tahun 1954, Titiek, putri pasangan ayah Tugeno Puspowidjojo seorang mantri kesehatan, dan ibu Siti Mariam, mengikuti perlombaan menyanyi. Ia mendaftar diam-diam sebab takut dimarahi ayah sebab Tugeno Puspowidjojo menganggap menyanyi seperti ‘tukang nembang’.

Titiek kukuh maju ke festival mengikuti saran dan dorongan teman-teman. Titiek atau Soemarti disarankan mendaftar dengan mengubah nama menjadi Titiek Puspo, diambil dari nama panggilannya Titiek dan Puspo dari nama ayahnya, sebagai siasat agar tidak ketahuan ayahnya. Soemarti setuju lalu mengindonesiakan nama Puspo menjadi Puspa. Maka, lengkaplah nama baru Titiek Puspa sebuah nama beken yang di kemudian hari melegenda dalam jagat dunia musik pop Indonesia. Walau menghadapi saingan, kebanyakan murid SMA, Titiek yang masih duduk di bangku SMP berhasil keluar sebagai juara pertama.

Tahun 1954 Titiek kembali mengikuti lomba dan tampil sebagai juara kedua Bintang Radio RRI Semarang, jenis hiburan tingkat Jawa Tengah. Ia bangga sebab walau hanya juara dua, namun dengan meraih nilai tinggi Titiek berkesempatan tampil beradu kemampuan di tingkat nasional. Pada malam pemberian hadiah, berlangsung di Stadion Ikada, Gambir, Jakarta, tahun 1954, saat tampil di panggung Titiek didaulat oleh Sjaiful Bachri, pimpinan Orkes Simphony Djakarta menyanyikan lagi Chandra Buana, karya pahlawan nasional Ismail Marzuki.



Sebuah kebanggaan tersendiri mengingat biasanya hanya juara I yang boleh tampil pada ‘Malam Gembira’ seperti itu. Peristiwa ini sangat berpengaruh membentuk kepercayaan diri Titiek Puspa.

Keyakinan ‘Soemarti’ atau Titiek Puspa menjadi penyanyi, yang kemudian sejak tahun 1960 tercatat sebagai salah satu artis penyanyi pada Orkes Simphony Djakarta pimpinan Sjaiful Bachri, semakin tebal. Terlebih sang ayah Tugeno Puspowidjojo, sesaat sebelum meninggal dunia dalam pelukan Titiek memanfaatkan waktu terakhir menyampaikan permintaan maaf atas sikap menentang Titiek terjun dalam dunia tarik suara.

Di tahun 1955 untuk pertamakali Titiek melakukan rekaman di Semarang, Jawa Tengah, di perusahaan rekaman negara Lokananta. Setahun kemudian Titiek kembali masuk dapur rekaman di perusahaan rekaman Irama, dengan satu lagu Melayu. Berselang beberapa tahun kemudian, tahun 1959, Titiek melakukan rekaman yang ketiga.



Rekaman kedua dan ketiga dilakukan di Jakarta bersamaan dengan kegiatan Titiek mengikuti festival Bintang Radio, sebuah obsesi kuat dan sudah berkali-kali dicoba namun sayang kemenangan selalu gagal diraih. Pada masa itu menjadi juara Bintang Radio adalah impian setiap artis pendatang baru sebab gaungnya sangat berpengaruh dalam dunia musik, sebagai batu loncatan untuk dikenal masyarakat luas.

‘Gagal’ membangun jalur keartisan lewat Bintang Radio, Titiek banting setir manggung dari satu panggung ke panggung lain, mengasah diri menjadi entertainer komplit. Ia mengisi panggung hiburan bersama beberapa grup musik seperti White Satin, Zaenal Combo, atau Gumarang. Dunia musik hiburan mengalami efek bola salju berkat kemahiran bernyanyi wanita Jawa kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, ini.

Titiek Puspa adalah artis penyanyi, pencipta lagu, bintang film, dan koreografer seni yang menjadi simbol awal bermulanya peri kehidupan kerlap-kerlip artis selebriti Indonesia. Titiek dahulu sering memposekan diri lewat saluran tunggal TVRI, menyuguhkan hiburan operet ‘Ketupat Lebaran’. Acara itu rutin setiap tiba hari raya Lebaran, demikian pula pada tahun baru muncul operet lain disuguhkan oleh Paguyuban Artis Penyanyi Ibukota (Papiko) pimpinan Titiek. Kedua hiburan bermutu itu pada masanya sangat ditunggu-tunggu pemirsa, layaknya oase hiburan di tengah kelangkaan tayangan siaran tv.

Papiko pada masanya sangat ampuh mengorbitkan artis-artis penyanyi pendatang baru. Bahkan, di zaman Orde Baru Papiko selalu digandeng organisasi massa sosial politik peserta pemilu Golongan Karya (Golkar), untuk menghibur masyarakat setiap kali musim Pemilihan Umum tiba. Titiek Puspa mempunyai keberuntungan lain selalu bisa dekat dengan penguasa. Di situ ia ‘menjual’ profesionalisme semata tanpa ada interes pribadi.

Di usia senja nan penuh energi dan vitalitas Titiek peraih penghargaan Pengabdian Panjang di Dunia Musik pada acara BASF Award ke-10 tahun 1994 lewat lagu Virus Cinta, masih dipercaya Ditjen Pajak Depkeu berkampanye tentang pentingnya kesadaran masyarakat membayar pajak. Ketika sudah muncul banyak penyanyi dan pencipta lagu muda berbakat, yang sudah teruji, Titiek masih memperoleh kepercayaan menciptakan lagu mars dan himne berbagai lembaga pemerintah. Titiek merelakan diri membuatkan lagu mars dan himne tanpa dibayar, namun itu semua dikerjakannya dengan senang hati.

Titiek sepertinya tidak pernah dan tak akan kehabisan gawean. Kabar tentangnya bisa saja tiba-tiba muncul, ia sudah menjadi juri berbagai ajang lomba dan festival, atau terjun ke Bundaran Hotel Indonesia berkampanye penanggulangan AIDS. Atau, seperti biasa saban hari usai menaruh kakinya di atas tempat tidur, tiba-tiba muncul keinginan menulis lagu. Lagu tentang apa saja sepanjang bercerita tentang cinta manusia dan kemanusiaan, koridor pokok tema lagu ciptaan Titiek. Koridor yang muncul karena Tuhan telah memberikan cinta kepada manusia walau, apa yang dilihat dan didengar oleh Titiek, justru keadaan yang semakin diliputi iri dan penuh kekerasan serta kesenangan manusia mencari kekurangan orang.


Nama: Titiek Puspa
Nama Kecil:Soedarwati, Kadarwati, dan Soemarti
Lahir:Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937

Agama:Islam
Suami:Mus Mualim

Anak:
Petty dan Ella
Cucu:
14 orang
Ayah:
Tugeno Puspowidjojo
Ibu:
Siti Mariam
Saudara:
-12 Orang

Pendidikan:
-SD
-SMP
-Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak

Profesi:
Penyanyi, pencipta lagu, koreografer seni, bintang iklan, dan bintang film.

Rekaman:
-Pertama tahun 1955, di Semarang, Jawa Tengah, di Lokananta
-Kedua tahun 1956, di Jakarta, di Irama
-Ketiga tahun 1959, di Jakarta, di Irama

Organisasi Profesi:
-Orkes Simphony Djakarta (OSD), pimpinan Sjaiful Bachri, sebagai anggota
-Paguyuban Artis Pop Ibukota (Papiko), sebagai pimpinan

Grup Musik:
-White Satin
-Zaenal Combo
-Gumarang

Karya Cipta Musik:
-Pertama, Kisah Hidup (1963)
-Kedua, Mama (1964)

Hit lagu terkenal:
-Kisah Hidup (1963)
-Mama (1964)
-Minah Gadis Dusun (1965)
-Gang Kelinci
-Romo Ono Maling
-Rindu Setengah Mati
-Adinda
-Cinta
-Jatuh Cinta
-Bing (1973)
-Kupu-kupu Malam
-Pantang Mundur
-Ayah
-Adinda
-Marilah ke Mari
-Buruk Kakaktua
-Bapak Pembangunan
-Apanya Dong (1982)
-Horas Kasih (1983)
-Virus Cinta (1994)

Film yang dibintangi:
-Minah Gadis Dusun (1965),
-Di Balik Cahaya Gemerlapan, (1976)
-Inem Pelayan Sexy (1976),
-Karminem (1977),
-Rojali dan Juhela (1980)
-Gadis (1981)
-Koboi Sutra Ungu (1982)

Penghargaan :
-1954: Juara II Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jawa Tengah, RRI Semarang
-1984: Penghargaan Bronze Prize lewat lagu Horas Kasih pada The World Song Festival in America di Los Angeles, tahun 1984
-1994: Penghargaan untuk untuk kategori “Pengabdian Panjang di Dunia Musik” pada BASF Award ke-10 tahun 1994

Alamat Rumah:
Jalan Sukabumi 23, Menteng, Jakarta Pusat

Source: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/titiek-puspa/index.shtml

Biografi Deddy Mizwar - Sutradara Film

Posted by Biografi | Profil | Biodata Saturday, 6 March 2010 0 comments
Biografi Deddy Mizwar
Nama Lengkap: Deddy Mizwar
Tanggal Lahir: Jakarta, 5 Maret 1955

Sutradara, produser, sekaligus aktor kawakan, Deddy Mizwar, dikenal aktif memproduksi film dan sinetron bernuansa dakwah dengan pesan moral dan agama yang ringan dan menghibur. Aktor senior pemenang 4 piala Citra (untuk film) dan 2 piala Vidya (untuk sinetron) ini sudah berpengalaman membuat sejumlah sinetron bermuatan dakwah dari serial Pengembara, Mat Angin sampai Lorong Waktu.

Kecintaan aktor asli Betawi ini pada dunia seni tidak terbantahkan lagi. Buktinya, selepas sekolah, ia sempat berstatus pegawai negeri pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Namun ayah dari 2 anak ini hanya betah 2 tahun saja sebagai pegawai karena ia lebih gandrung main teater – ia bergabung di Teater Remaja Jakarta. Selebihnya, jalan hidupnya banyak ia baktikan pada dunia seni, lebih tepatnya seni peran.

Darah seni itu rupanya mengalir deras dari ibunya, Ny. Sun'ah yang pernah memimpin sangar seni Betawi. Akhirnya, ia dan ibunya kerap mengadakan kegiatan seni di kampung sekitarnya. "Pertama kali manggung, saat acara 17 Agustus-an di kampung. Saya bangga sekali waktu itu, karena ditepukin orang sekampung. Saya pun jadi ketagihan berakting," kenang Deddy.

Kecintaannya pada dunia teater telah mengubah jalan hidupnya. Beranjak dewasa, sekitar tahun 1973, Deddy mulai aktif di Teater Remaja Jakarta. Dan lewat teater inilah bakat akting Deddy mulai terasah. Deddy pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki. Tidak sekedar mengandalkan bakat alam, Deddy kemudian kuliah di LPKJ, tapi cuma dua tahun.

Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerja keras dan mencurahkan kemampuan aktingnya, di berbagai film yang dibintangi. Pertama kali main film, dalam Cinta Abadi (1976) yang disutradarai Wahyu Sihombing, dosennya di LPKJ, dia langsung mendapat peran utama. Puncaknya, perannya di film Naga Bonar kian mendekatkannya pada popularitas. Kepiawaiannya berakting membuahkan hasil dengan meraih 4 Piala Citra sekaligus dalam FFI 1986 dan 1987 diantaranya: Aktor Terbaik FFI dalam Arie Hanggara (1986), Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam Opera Jakarta (1986), Aktor Terbaik FFI dalam Naga Bonar (1987), dan Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam Kuberikan Segalanya (1987).

Di awal tahun 90-an, karir Deddy Mizwar mencapai puncak. Melalui kekuatan aktingnya yang mengagumkan, popularitas ada dalam genggamannya. Meski namanya semakin populer, Deddy merasa hampa. Di tengah rasa hampa, pikirannya membawanya kembali pada masa kecilnya. Lahir di Jakarta 5 Maret 1955, ia tumbuh di tengah nuansa religius etnis Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di masa kecil itu.

Pergolakan batinnya akhirnya berakhir setelah ia meyakini bahwa hidup ini semata-mata beribadah kepada Allah. Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini segala hal harus bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada bidang yang digelutinya yakni dunia perfilman dan sinetron.

Suami dari Giselawati ini kemudian memutuskan untuk terjun langsung memproduksi sinetron dan film bertemakan religius sebagai wujud ibadahnya kepada Allah. Didirikanlah PT Demi Gisela Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah bulat kendati pada perkembangan berikutnya banyak rintangan dan hambatan ditemui.

Ketika itu sinetron religius Islam masih menjadi barang langka dan kurang bisa diterima pihak stasiun televisi. Kondisi ini tidak menyurutkan langkahnya. Maka dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara yang tayang di bulan Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating sinetron ini cukup menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. ''Berjuangnya sungguh keras tapi setelah itu semua orang bisa menikmati,'' kata Deddy bangga.

Diakuinya produk sinetron yang bernafaskan religius Islam sulit mendapatkan tempat di stasiun televisi selain di bulan Ramadhan. Hal ini disebabkan stasiun teve terlampau under estimate di samping memang tidak banyak sineas yang mau membuat tayangan sinetron religius di luar bulan Ramadhan.

Dalam pandangan Deddy Mizwar, film merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat luas termasuk kalangan non-Muslim. ”Saya contohkan sinetron ‘Lorong Waktu’ yang ternyata diminati pula oleh warga non-Muslim. Bahkan, saat ini ‘Lorong Waktu’ diputar ulang di luar bulan Ramadan hingga saya berkesimpulan sinetron atau film dakwah tak harus identik dengan bulan Ramadan,” katanya. Dengan kata lain, masyarakat rupanya mau menerima dan menyambut hangat tayangan religius di luar Ramadhan.

Ke depan, Deddy akan terus berusaha konsisten memproduksi film dan sinetron religius.
Ia juga menyarankan agar umat Islam mendirikan stasiun TV sendiri, sehingga umat Islam memiliki alternatif dalam memilih stasiun TV maupun acaranya. ”Sudah waktunya umat Islam mengisi dan mewarnai acara-acara TV. Saya melihat potensi ke arah itu cukup besar terutama dari kalangan sineas muda dan mahasiswa,” kata aktor yang telah membintangi sekitar 70 film layar lebar ini penuh optimisme.

Biodata Lengkap Deddy Mizwar

Nama: Deddy Mizwar
Lahir: Jakarta, 5 Maret 1955
Isteri: Giselawaty Wiranegara

Anak:
Senandung Nacita dan Zulfikar Rakita

Prestasi:
Aktor Terbaik FFI dalam Arie Hanggara 1986
Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam Opera Jakarta 1986
Aktor Terbaik FFI dalam Naga Bonar 1987
Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam kuberikan segalanya 1987
Pemeran Pembantu Piala Terbaik Piala Vidia FSI dalam Vonis Kepagian 1996
Aktor Terbaik dan Sutradara Terbaik sekaligus Sinetron Terbaik FSI dalam Mat Angin 1999
Unggulan FFI (12 kali):
Bukan Impian Semusim FFI 1982
Sunan Kalijaga FFI 1984
Saat-saat Kau Berbaring Di dadaku FFI 1985
Kerikil-kerikil Tajam FFI 1985
Kejarlah Daku Kau Kutangkap FFI 1986
Ayahku FFI 1988
Putihnya Duka Kelabunya Bahagia FFI 1989
Dua Dari Tiga Lelaki FFI 1990
Jangan Renggut Cintaku FFI 1990

Sinetron:
Pengembara
Lorong Waktu
Adillah

Film:
Kiamat Sudah Dekat ( VCD )
Naga Bonar
Plong ( VCD )
Hatiku Bukan Pualam
Cinta Abadi
Sunan Kalijaga & Syech Siti Jenar

Source: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/d/deddy-mizwar/index.shtml

Profil Negara Pakistan

Posted by Biografi | Profil | Biodata Friday, 5 March 2010 0 comments
Profil Singkat Negara Pakistan


Nama Negara: Pakistan
Bentuk Pemerintahan: Republik Islam Pakistan
Ibukota : Islamabad

Populasi: 165.803.560 jiwa (2007) / 97% muslim
Ekspor Utama: Tekstil, beras, kulit, produk, olahraga, dll
Impor Utama: Minyak bumi, permesinan,peralatan transportasi, dll.
Bahasa: Urdu (resmi), Sind, Punjabi,Inggris

Di timur, Pakistan berbatasan dengan India. Di barat, berbatasan dengan Iran dan Afghnistan: Di utara, dengan Afghanistan dan Cina. Di selatan, dengan laut Arab dan teluk Oman. Luas Pakistan adalah 703.943 Km; yang terbagi atas empat propinsi: Baluchistan, Sindh, Punjab dan wilayah Barat Daya. Pakistan bertetangga dengan dua negara besar di dunia: India dan Cina. Pakistan menjalin hubungan baik dengan Barat di satu pihak, sedangkan disisi lain dengan Cina Komunis.

Berdirinya Republik Islam Pakistan tidak lepas dari peran seorang pengacara muslim Muhammad Ali Jinnah. Pada awalnya, berdirirnya Pakistan merupakan problem tersendiri, terutama dalam mencari alasan atau raison d’etre Pakistan merdeka. Apakah the founding fathers Pakistan bermaksud mendirikan Negara Islam atau tengah berupaya membangun Tanah Air bagi orang Islam? Lebih dari itu, apakah kekhawatiran sebagai warga minoritas di India yang mayoritas Hindu dapat dijadikan alasan berdirinya Pakistan merdeka.

Elan dasar pendirian "Republik Islam" ini, seperti terartikulasikan dalam gagasan pendiri-pendirinya adalah kehendak komunitas muslim --sebagai bangsa terpisah di anak benua India-- untuk membentuk negara di mana mereka mampu menerapkan ajaran Islam dan hidup selaras dengan petunjuknya.

Berbagai teori telah dimunculkan tentang alasan-alasan pokok berdirinya Pakistan sebagai sebuah negara dengan identitas Islam. Pada 23 Maret 1947 Liga Muslim India (All Indian Moslem League) mengeluarkan resolusi yang terkenal dengan nama Resolusi Pakistan. Dalam resolusi tersebut, kaum Muslim India dipimpin Muhammad Ali Jinnah, yang juga Bapak Negeri Pakistan, berjanji memperjuangkan terbentuknya negara muslim.

Pendirian Liga Muslim mengawali munculnya gerakan nasionalisme India, pada awalnya merupakan respon terhadap gerakan nasionalisme Hindu yang disuarakan Partai Kongres Nasional India. Liga Muslim didirikan oleh sekelompok intelektual Muslim India yang pada perkembangannya menuntut terbetuknya pemerintahan sendiri. Tokoh yang terkenal dari organisasi ini adalah Muhammad Ali Jinnah.

Di bawah kepemimpinan Jinnah, ide negara Pakistan semakin berkembang dan pada tahun 1940 menjadikan pembentukan Pakistan sebagai tujuan perjuangan. Tujuan itu menjadi kenyataan saat Pakistan diproklamirkan sebagai negara merdeka pada 14 Agustus 1947, dan kenyataannya, Pakistan merdeka sehari lebih cepat dari India yang dimerdekakan 15 Agustus 1947

Berdirinya Pakistan didasarkan atas realitas bahwa masyarakat muslim yang meliputi wilayah Sind, Punjab, Baluchistan, provinsi di Barat Laut dan Benggala merupakan sebuah bangsa yang berhak atas wilayah mereka sendiri. Meskipun banyak yang meragukan klaimnya sebagai sebuah bangsa, namun sesuatu yang pantas diberi nilai adalah kenyataan geografis Pakistan yang merupakan anak benua India yang nyaris lepas dari peradaban induknya, yaitu India.

Pakistan dibentuk oleh elit-elit muslim yang memobilisasi sumberdaya Muslim India Barat Laut untuk menentang kebijakan Inggris yang berseberangan dengan kepentingan kelompok muslim. Kemungkinan lainnya adalah teori Francis Robinson yang menyatakan terbentuknya Pakistan dari faktor ideologi terutama doktrin Ummah yang mendorong elit-elit muslim mengupayakan perlindungan budaya muslim dan otonomi yang lebih besar bagi kaum muslim di Provinsi Kesatuan Barat Laut dan Bengal.

Senada dengan Robinson, David Taylor mengesankan terbentuknya Pakistan sebagai ekspresi politik muslim kelas atas (elit) yang memahami kenyataan berbedanya identitas keagamaan dan sosial politik mereka dengan kekuatan-kekuatan lainnya di anak benua India.

Tuntutan kaum elit ini menurutnya selain mewakili permasalahan kaum elit Pakistan, juga didukung oleh kesadaran komunal akan pentingnya negara bagi komunitas Muslim. Selain itu ia juga menemukan fakta dalam kasus-kasus tertentu yang melibatkan massa yang menuntut pemenuhan kebutuhan asasinya sebagai orang Islam juga tidak bisa disepelekan. Artinya, dalam waktu-waktu tertentu, tuntutan elit bisa senada dengan tuntutan arus bawah muslim.

Sementara itu dengan pertanyaan yang hampir sama dengan Robinson, Karen Amstrong menilai pendirian Pakistan justru diilhami cita-cita sekuler modern. Sejak masa Aurengzeb, Muslim di India merasa sedih dan tidak aman, mereka mengkhawatirkan identitas mereka dan berkem¬bangnya kekuasaan mayoritas Hindu.

Hal ini semakin parah setelah pemisahan India dari Inggris pada tahun 194¬7 ketika kekerasan komunal memuncak di kedua belah pihak dan ribuan orang tewas. Jinnah ingin membangun arena politik yang tidak menekan atau membatasi identitas religius Muslim. Akhirnya ia mempertanyakan: “apa maknanya negara Islam yang menggunakan sebagian besar simbol-simbol Islam untuk tujuan "sekuler"?

Esposito juga berkesimpulan: “aspirasi Islam memang merupakan raison d'etre-berdirinya Pakistan, tetapi meskipun terdapat persetujuan umum mengenai pentingnya suatu tanah air Islam, namun apa yang dimaksud tidak begitu jelas. Perbedaan pandangan dan pendekatan antara kaum modernis dan tradisionalis merupakan halangan yang cukup besar, dan belum pernah diusahakan secara sistematis untuk menjelaskan ideologi Islam Pakistan dan bagaimana melaksanakan ideologi itu secara konsisten.

Dari beberapa teori ini, paling tidak yang paling memungkinkan adalah bahwa gagasan nasionalisme yang datang dari barat telah membantu mempercepat kelahiran Pakistan sebagai negara bangsa. Dalam hal ini, Badri Yatim menyebutkan, gagasan nasionalisme merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka, yang bebas dari pengaruh politik Barat.

Praktek Islamisasi Pakistan

Periode 1947-1970

Sebagaimana disinggung di atas, Islam merupakan raison d'etre dari dibaginya India dan di¬dirikannya Pakistan sebagai suatu negara-bangsa yang berdiri sendiri tahun 1947. Walaupun Is¬lam telah digunakan untuk memobilisasikan dan mempersatu¬kan orang Islam di waktu gerakan kemerdekaan, namun sedikit sekali terdapat konsensus mengenai masalah-masalah fundamen¬tal seperti: "Apakah artinya kalau dikatakan bahwa Pakistan ada¬lah sebuah negara Islam modern? Bagaimana menggambarkan watak keislamannya dalam ideologi dan lembaga-lembaga nega¬ra?"

Dengan memperhatikan periode tahun 1947-1970 ternyata bahwa hasilnya amat tidak memuaskan. Tidak adanya kestabilan politik dan perbedaan yang tajam antara golongan tradisionalis dan mo¬dernis sedikit sekali memberikan sumbangan kepada perkem¬bangan suatu ideologi Islam yang mapan yang dapat berguna se¬bagai dasar dari persatuan nasional di tengah-tengah perbedaan-¬perbedaan bahasa dan regional yang amat luas terdapat di Pakis¬tan.

Kesimpulan yang diambil kebanyakan pengamat Pakistan adalah, dari periode 1947 hingga 1970 tersebut, Pakistan lebih banyak berdebat tentang bagaimana ideology Islam itu dapat diterapkan dalam negara. Perdebatan itu meliputi tokoh modernis, nasionalis sekuler dan kelompok Islamis tradisionalis yang menginginkan syari’at Islam diterapkan secara ketat.

Misalnya, Abul A'la Maududi (1903-1979) mewakili kaum tradisionalis, mendesak dite¬rapkannya norma-norma Syariah yang lebih ketat, sehingga pada tahun 1956, sebuah konstitusi secara resmi menjadikan Pakistan sebagai Republik Islam. Ini mewakili sebuah aspirasi yang kini hidup kembali dalam institusi-institusi politik negara tersebut. Sementara Fazlur Rahman mewakili kaum modernis memberikan gambaran tentang negara Islam yang lebih modern berdasarkan kedaulatan rakyat.

Pemerintahan Jenderal Muham¬nad Ayub Khan (1958-1969) adalah contoh khusus sekularisme berlebihan sekaligus dictator militer. Dia menasionalisasi sumbangan-sumbangan religius (auqah), nembatasi pendidikan madrasah, dan mengembangkan sistem hukum sekuler. Tujuannya adalah menjadikan Is¬am sebagai agama sipil, yang bisa dikendalikan negara, tetapi keinginan ini menyebabkan ketegangan dengan para ahli agama Islam dan menyebabkan jatuhnya pemerin¬tahan Khan.

Selama tahun 1970-an, kekuatan para ahli agama Islam menjadi kekuatan oposisi utama melawan pemerintahan, dan sebagai seorang beraliran kiri dan sekularis Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto (1971-1977) meredakan gerakan mereka dengan melarang judi dan alkohol, Tetapi pada periode ini akhirnya Pakistan tetap digerakkan dengan semangat sekuler.

Hal ini melegitimasi kenyataan, meskipun Pakistan menyatakan dirinya sebagai negara Islam, tidak satupun program yang pernah disusun untuk menerapkan Islam. Dalam rentang waktu 30 tahun itu, tidak heran muncul tudingan bahwa Islamisasi tidak lebih hanya sebagai contoh penggunaan Islam sebagai alat oleh rezim yang berkuasa untuk menegakkan keabsahan politiknya.

Periode 1971-sekarang

Islamisasi mula-mula muncul sebagai kebijakan negara yang lahir di bawah pemerintahan Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin oleh Zulfikar Ali Bhutto (1971-1977). Ali Bhutto datang membawa tawaran baru, yaitu mengawinkan Islam dengan Sosialisme. Upaya ini mendapat sambutan hangat dari rakyat Pakistan.

Bhutto mempergunakan ungkapan-ungkapan keagamaan yang mampu membangkitkan emosi, seperti misalnya Musawat-i¬ Muhammadi (persamaan Muhammad) dan Islami Musawat (persamaan Islam) sebagai bagian dari ke¬pandaian mengucapkan pidato politik untuk membe¬narkan kebijakan pemerintahannya yang bersifat sosialis dan untuk memperoleh dukungan massa bagi kebijakannya.

Pada tahun 1974 pemerintahannya juga bertanggung jawab atas terjadinya kampanye panjang pada dasawarsa itu sehingga pengikut sekte Ahmadiyyah menganggap pendiri sekte itu, Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi, dan dengan demikian mereka menolak pilar Islam bahwa Muhammad ada¬lah utusan Tuhan yang terakhir.

Setelah parlemen mengeluarkan peraturan hukum yang menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah minoritas non-muslim dan ketetapan dalam Undang Undang tahun 1973 yang mengharuskan jabatan presiden dan perdana menteri dipegang oleh orang-orang Islam, sumpah jabatan di¬ubah agar penegasan bahwa Muhammad adalah nabi yang terakhir bisa dimasukkan ke dalamnya.

Ketika agitasi anti pemerintah (dipimpin oleh Persekutuan Nasional Pakistan yang pemimpin-pe¬mimpinnya menggunakan Islam untuk menggerak kan orang-orang melawan pemerintahan Bhutto) pecah di pusat-pusat pertokoan utama, pemerintah berusaha untuk mengakhiri keadaan ini dengan mengumumkan reformasi , “Islam” dengan menentu¬kan Jum’at dan bukannya Minggu sebagai hari libur umum mingguan dan mengumumkan langkah-lang¬kah yang melarang pemakaian alkohol, perjudian dan pacuan kuda. Manifesto pemilihan Partai Rakyat Pakistan tahun 1977 juga memasukkan persetujuan partai untuk:

1.Menjadikan pengajaran al Quran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan umum.
2.Mengembalikan masjid ke tempat tradisionalnya selaku pusat terpenting masyarakat.
3.Mendirikan Akademi Ulama Negeri untuk mendi¬dik Imam dan Khatib di masjid-masjid.
4.Menjadikan tempat keramat orang suci yang ter¬hormat sebagai pusat pengajaran Islam.
5.Meningkatkan fasilitas untuk orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji.
6.Memperkokoh Institut Penelitian Islam di Islam¬abad.

Akan tetapi program Islamisasi ini menurut Riaz Hassan tidak lebih hanya sekadar respon untuk menenangkan kelompok urban yang menentang kebijakan ekonominya. Program ini secara kasat mata tidak lebih pada pengakuan dan perbaikan aspek simbolis Islam sebagaimana awal pendiriannya.

Ali Bhutto akhirnya dijatuhkan melalui kudeta Angkatan Bersenjata di bawah pimpinan Jenderal Zia ul-Haq Juli 1977 dengan alasan tingkah lakunya yang tidak Islami dan keakrabannya dengan isu demokrasi kebarat-baratan, kemudian ia digantung dengan tuduhan terlibat konspirasi untuk membunuh ayah politisi Ahmed Reza Kasuri.

Ali Bhutto kemudian digantikan oleh Ziaul-Haq, yang mengembalikan aturan pakaian tradisional Muslim dan memberlakukan kembali hukuman yang Islami dan hukum komersial. Tetapi Presi¬den Zia sendiri juga menjauhkan Islam dari masalah¬-masalah politik dan ekonomi yang didukung oleh kebijakan¬-kebijakan sekularis.

Secara populer, upaya Islamisasi Pakistan itu ia sebut dengan Nizam-i- Islami. Usaha yang dikampanyekan oleh Zia ul-Haq dalam rangka Islamisasi antara lain:

1.Menegaskan kembali tujuan negara (objektif resolution) Pakistan, yaitu Islam. Konsekwensinya sistem (ajaran) Islam harus diterapkan di negara Pakistan;
2.Pembentukan mahkamah-mahkamah Syar’iyyah, yang bertujuan meletakkan supremasi syari’ah di atas hukum positif. Pada kasus tertentu ia juga melakukan penyesuaian hukum-hukum positif dengan hukum Islam;
3.Membangun prinsip negara kesejahteraan (welfare state) dengan membentuk pemungutan zakat dan ‘usyr (pajak yang dipungut dari hasil pertanian);
4.Serta menyatakan perang terhadap sistem perekonomian yang berbasis riba.

Bagaimanapun, kampanye dan program Nizam-i-Islami itu tidak lebih sebagai pendekatan politik penerapan hukum Islam yang pada akhirnya disikapi secara politis oleh kelompok oposisi. Sementara itu disisi yang lain, respon rakyat terhadap program itu biasa-biasa saja. Akhirnya program itu tidak lebih hanya perdebatan kalangan elit Pakistan.

Dalam hal politik luar negeri, Zia ul-Haq memberi dukungan penuh kepada Mujahidin Afghanistan yang berjuang melawan invasi militer Uni Soviet (1979-1989). Namun, pada 1988, Zia ul-Haq tewas saat helikopter yang ditumpanginya bersama Duta Besar Amerika Serikat di Pakistan meledak. Sejak wafatnya dalam kecelakaan pesawat pada tahun 1988, politik Pakistan didominasi ketegangan etnik, permusuhan, dan skandal-skandal korupsi di antara anggota kelas-kelas elit dan para ahli agama Islam tidak lagi berpengaruh. Islam masih menjadi identitas Pakistan dan ada pada semua kehidupan masyarakat, tetapi tetap tidak berpengaruh pada kehidupan.

Pasca Ziaul Haq, sepertinya program Islamisasi tidak begitu populer lagi di Pakistan. Pakistan tidak lebih seperti negara-negara berkembang lainya yang penuh dengan intrik politik, perdebatan panjang antara Islam dan demokrasi dan yang tak kalah beratnya, internasionalisasi Pakistan, terutama soal nuklir dan terorisme. Tidak heran Pakistan belakangan menjadi barometer keamanan bagi negara muslim di kawasan lainnya, termasuk Asia Tenggara.

Sekilas pemerintahan setelah Zia ul Haq, muncul Benazir Bhutto, putri mendiang Zulfikar Ali Butho, yang menjadi perdana menteri wanita pertama di Republik Islam Pakistan. Terpilihnya Benazir Bhuto merupakan kejutan bagi umat Islam dan juga bagi banyak negara non muslim.

Pemimpin perempuan merupakan suatu yang masih diperdebatkan terutama di Pakistan yang pada Era Zia ul-Haq diharamkan. Benazir Bhuto telah menjadi zaman peralihan dari era perdebatan mengenai identitas Islam kepada wacana hubungan Islam dan demokrasi (termasuk masalah gender), sekaligus menjadi tanda bagi kemenangan demokrasi atas rezim militer.

Platform demokrasi yang ingin ditegakkan oleh Dinasti Bhutto adalah mengkritisi dominasi militer. Akibatnya Benazir selalu berseberangan dengan para jenderal militer. Salah satu janji Benazir jika dia memenangi pemilu dan menjadi PM kembali adalah mengefisiensikan dana militer. Sebuah pilihan demokratis namun tidak populer bagi kalangan militer.

Pada 1990 Benazir digulingkan oleh Presiden Ghulam Ishaq Khan dan lagi-lagi didukung oleh militer karena dituduh korupsi namun ia tidak pernah diadili. Tahun 1993 ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri hingga 1996. Pada tahun 1996, Presiden Farooq Leghari menaggalkan jabatan Benazir atas tuduhan skandal korupsi.

Benazir digantikan Nawaz Sharif, seorang pengikut setia Zia ul-Haq. Sharif menjadi PM setelah Partai Liga Muslimin Pakistan yang dipimpinnya menang pemilu dan mempunyai kursi mayoritas di parlemen. Dalam perjalanan pemerintahannya, Sharif bersitegang dengan militer yang kemudian dikudeta oleh Musharraf yang saat itu duduk dalam struktur Dewan Keamanan Nasional.

Beberapa pemimpin senior militer lalu mendukung Musharraf dalam kudeta damai terhadap Sharif. Kepemimpinan Musharraf pun tetap bertahan setelah didukung dengan partai-partai di Pakistan. Yang menarik justru pada tahun 2006, Nawaz Sharif memutuskan berkoalisi dengan Benazir Bhutto, rival lamanya, dalam Aliansi untuk Pemulihan Demokrasi, demi menggulingkan Musharraf.

Kepemimpinan Musharraf tidak luput dari konflik. Bentrokan berdarah di sejumlah wilayah Pakistan awal Maret 2007 merupakan klimaks dari krisis politik yang menimpa Presiden Pervez Musharraf. Dia memecat Ketua Mahkamah Agung Iftikhar Muhammad Chaudhry karena dituduh menyalahgunakan kekuasaan.

Pihak oposisi menuduh pemecatan itu dilatarbelakangi kekhawatiran Musharraf kalau Chaudhry akan menghalangi niatnya menjadi presiden untuk ketiga kali. Chaudhry juga dikhawatirkan mengubah konstitusi untuk melucuti posisi rangkap Musharraf sebagai panglima angkatan bersenjata. Pemecatan Chaudhry memicu protes luas dari para pengacara dan partai-partai oposisi di seluruh negeri, walau aksi mendukung Musharraf pun dilakukan partai propemerintah Mutahida Qami Movement (MQM). Bentrokan pun tidak terhindarkan.

Kelompok oposisi, baik dari kubu mantan PM Benazir Bhutto yakni Partai Rakyat Pakistan dan kelompok pendukung mantan PM Nawaz Sharif banyak yang menjadi korban akibat bentrokan itu.

Terakhir sebagai kesudahan karir politik Benazir Bhutto, 27 Desember 2007 ia terbunuh oleh serangan tembakan dan bom bunuh diri di Rawalpindi sesaat setelah ia berkampanye untuk posisi PM yang ke tiga kalinya.

Era Perves Musharraf (1999) adalah bukti terkini tentang betapa rumitnya mengurus sebuah negara modern yang diberi nama Republik Islam Pakistan itu. Dalam konstitusinya tercantum dasar filosofi mewah tentang kedaulatan Allah atas alam semesta dan syariah sebagai sumber hukum tertinggi. Dalam realitas, baik gagasan kedaulatan Allah maupun syariah ternyata tidak mampu menolong nasib Pakistan berhadapan dengan konflik suku yang beragam dan sengketa politik yang sering berkuah darah itu.

Biografi Agus Kuncoro Adi - artis

Posted by Biografi | Profil | Biodata Thursday, 4 March 2010 0 comments
Biografi Agus Kuncoro Adi

Nama Lengkap: Agus Kuncoro Adi

Agus Kuncoro Adi adalah seorang bintang akting film dan juga sinetron Indonesia. Debutnya aktingnya diawali lewat film SAUR SEPUH IV yang diangkat dari sandiwara radio, berikutnya disusul TITISAN DARAH BIRU (1991).

Sinetron yang pernah dibintangi pria kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1972 itu di antaranya TUTUR TINULAR (1997) dengan perannya sebagai Raden Wijaya. Kemudian FTV SAYEKTI DAN HANAFI sebagai Hanafi bersama Widi Mulia sebagai Sayekti. Disusul kemudian Dunia Tanpa Koma, Maharani dan Debu Tertiup Angin.

Belakangan suami aktris Anggia Jelita itu juga sukses lewat sinetron berjudul PARA PENCARI TUHAN dengan perannya sebagai Azzam.

Source: kapanlagi.com

Biografi Hadi Utomo - Ketua Umum Partai Demokrat

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 3 March 2010 0 comments
Biografi Hadi Utomo - Anggota DPR

Hadi Utomo, menantu Sarwo Edhi Wibowo dan adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD) periode 2005-2010 dalam Kongres I PD di Sanur, Bali, dini hari pukul 03.35 WITA, 23/5/2005. Dalam pemilihan putaran kedua, Hadi meraih 302 suara menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Subur Budhisantoso 108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara.

Sebelumnya, pada siang hari 22/5/2005, Kongres I PD yang berlangsung di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, dengan mulus memilih Susilo bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina PD. Dewan Pembina ini mempunyai kuasa pembinaan tertinggi dalam tubuh partai itu.

Hadi Utomo kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 15 Agustus 1945, berlatar belakang militer dengan pangkat terakhir kolonel. Dia alumni Akabri angkatan 1970, yang sudah memasuki masa purnawirawan. Dia adalah salah satu kader PD yang terakhir menjabat menjabat Wakil Sekjen DPP. Dia terkenal gigih berjuang dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden 2004. Terakhir di PD. Dia pun terpilih menjadi anggota DPR dari PD periode 2004-2009. Keanggotaan di DPR itu akan dilepaskannya setelah terpilih menjadi Ketua Umum PD.

Proses pemilihan Ketua Umum DPP berlangsung a lot, mulai dari pembahasan persyaratan pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dan suara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) bermasalah. Pemungutan suara tahap pertama dilakukan terhadap delapan bakal calon ketua umum DPP, yakni Agus Abu Bakar, Hamidah Hamid, Subur Budhisantoso, Hadi Utomo, Sutan Bhatoegana, Suratto Siswodihardjo, Nurhayati Ali Assegaf dan Ahmad Mubarok. Pada pemilihan putaran pertama yang berakhir pukul 00.45 WITA, tiga calon masuk putaran kedua yakni Hadi Utomo (264 suara), Subur Budhisantoso (106), dan Suratto Siswodihardjo (72).

Setelah sidang diskor selama 30 menit, pemilihan putaran kedua dimulai. Dalam pemilihan putaran kedua, yang berakhir dini hari pukul 03.35 WITA, 23/5/2005, Hadi meraih 302 suara, menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Subur Budhisantoso 108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara.

Sebelumnya, persyaratan bakal calon ketua umum menjadi pembahasan a lot dalam kongres. Setelah syarat harus telah menjadi pengurus minimal selama satu tahun dibahas sehari sebelumnya, kemudian persyaratan pendidikan minimal S1 berlangsung a lot sehingga harus divoting.

Anggota panitia pengarah, Irzan Tandjung, secara berapi-api sempat menolak syarat S1 itu. "Orang cerdas tidak ada hubungannya dengan titel. Banyak pemimpin yang lahir tidak berpendidikan tinggi. Mereka itu kita hormati karena wisdomnya. Apalagi UU Pemilu Presiden hanya mensyaratkan calon presiden lulus SLTA," ujar guru besar ekonomi itu.

Hujan interupsi beralngsung, hingga pimpinan sidang, Marcus, menawarkan apakah akan melaksanakan voting atau tidak. Akhirnya disepakati divoting dengan dua pilihan calon ketua umum harus lulusan S1 atau SLTA/SMA/ SMU. Dari total jumlah suara dalam voting itu 467 suara, dengan rincian satu suara DPP, 32 suara DPD, dan 434 suara DPC, hanya 447 suara yang mengikuti voting. Hasilnya sebanyak 246 suara memilih S1 dan 196 suara memilih SLTA. Empat suara tidak sah dan satu suara abstain.

Persyaratan yang kemudian disahkannya sebagai syarat ke-10 dalam Pasal 27 peraturan tata tertib kongres yang menyebutkan seorang calon ketua umum PD minimal harus S1, telah membuat Sys NS dan Soekartono Hadiwarsito tersingkir dari bursa calon ketua umum. Sehingga calon tinggal sembilan orang. Lalu mendadak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi mengundurkan diri. Tinggal delapan nama yang mengikuti pencalonan.


Biodata Lengkap Hadi Utomo

Nama:Hadi Utomo
Lahir:Semarang,15 Agustus 1945
Agama:Islam
Isteri:Mastuti Rahayu (Putri Sarwo Edhi Wibowo)

Jabatan
- Ketua Umum DPP Partai Demokrat periode 2005-2010
- Anggota DPR/MPR 2004-2009

Pendidikan:
- Akabri 1970
- Sekolah Tinggi Hukum Militer (1998)
- S2 (Magister Manajemen) STIE Widya Jayakarta (2001)

Pangkat Terakhir:
Kolonel Infanteri AD

Karir:
- Kepala Trantib (Ketenteraman, Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat) DKI Jakarta

Organisasi:
- Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat (2001-2005)
- Ketua Umum DPP Partai Demokrat (2005-2010)

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/hadi-utomo/index.shtml

Biografi Bapak Habibie - Biografi Presiden

Posted by Biografi | Profil | Biodata 1 comments
Biografi Bapak B.J Habibie - Biografi Presiden

B.J. Habibie, lelaki kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 . Dia penuh kontroversi dan merupakan sosok manusia paling multidimensional di Indonesia. Begitu banyak kawan-kawannya dan nyaris segitu banyak pula orang yang tak setuju dengan sepakterjang tokoh industri pesawat terbang kelas dunia yang memperoleh berbagai penghargaan, salah satunya paling berkelas adalah Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences) pada pertemuan tahunan dan konggres ke-18 ICAs yang diselenggarakan di Beijing, China tahun 1992 dari Pemerintah China.

Ketika dia mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan didaulat menjadi Ketua Umum, misalnya, sebagai antitesa berdiri pula Forum Demokrasi (Fordem) pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang populis dan egaliter serta inklusif. ICMI, yang dalam perjalanan selanjutnya praktis menjadi kekuatan politik Habibie, oleh Gus Dur dituding sebagai sektarian karena itu kurang bagus untuk masa depan sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia.

Ketika pada 10 Agustus 1995 dia berhasil menerbangkan pesawat terbang N-250 “Gatotkoco” kelas commuter asli buatan dan desain putra-putra terbaik bangsa yang bergabung dalam PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, kini menjadi PT Dirgantara Indonesia), dia diserang pelaku ekonomi lain bahwa yang dibutuhkan rakyat Indonesia adalah beras bukan “mainan” pesawat terbang.

Pemikiran ekonomi makro Habibie yang terkenal dengan Habibienomics, dihadirkan oleh lingkarannya sebagai counter pemikiran lain seperti Widjojonomics (yang sesungguhnya merupakan Soehartonomic). Ketika Habibie berhasil melakukan imbal-beli pesawat terbang “Tetuko” CN-235 dengan beras ketan itam Thailand, dia diledekin, pesawat terbangnya hanya sekelas ketan itam.

Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor Timur, satu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah payah oleh rezim Soeharto. Siapapun dia orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Timor Timur, sehingga ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka) unggul mutlak.

Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor-Timur (Tim-Tim), asatu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah-payah oleh Rezim Soeharto. Siapaun dia orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Tim-Tim. Sehingga ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka) unggulk merdeka.

Masalah Tim-Tim, salah-satu yang dianggap menjadi penyebab penolakan pidato pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Umum MPR RI hasil Pemilu 1999. Pemilu terbaik paling demokratis setelah Pemilu tahun 1955. penolakan ini membuat BJ, Habibie tidak bersedia maju sebagai kandidat calon presiden (Capres).

Kjetika Habibie menjabat presiden hampir tidak ada hari tanpa demontrasi. Demontrasi itu mendesak Habibie merepon tuntutan reformasi dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kebebasan pers, kebebasan berpolitik, kebebasan rekrutmen politik, kebebasan berserikat dan mendirikan partai politik, mebebasan berusaha, dan berbagai kebebasan lainnya. Namun kendati Habibie merespon tuntutan reformasi itu, tetap saja pemerintahannya dianggap merupakan kelanjutan Orde Baru . Pemerintahannya yang berusia 518 hari hanya dianggap sebagai pemerintahan transisi.

Keinginan Habibi mengakselerasi pembangunan sesungguhnya sudah dimulainya di Industri pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dengan menjalankan program evolusi empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat “berawal dari akhir dan berakhir diawal.”

Empat tahapan alih tehnologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi ituh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya adalah NC 212 lisensi dari CASA Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat terbang secara bersama- sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235 berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama antara aqual antara IPTN dengan Casa Spanyol.

Ketiga, mengintegrasikan seluruh tehnologi dan sistem konstruksi pesawat terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama sekali didesain baru, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas 50-60 pemumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire.

Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal, yang diproyeksikan bernama N 2130 berkapasitas 130 penumpang dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar 2 milyar dolar AS.

Empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat didefinisikan “bermula dari akhir dan berakhir di awal,” memang sukar dipahami pikiran awam. Habibie dianggap hanyut dengan angan-angan teknologinya yang tidak memenuhi kebutuhan dasar tehnologi Indonesia, yang ternyata nenbuat sepeda saja secara utuh belum sampai.

Pemerintah orde baru sangat memanjakan program empat tahapan alih tehnologi Habibie dengan menempatkan berbagai proyeknya sebagai industri strategis yang menyedot banyak dana. Satu diantaranya, yang paling spetakuler, adalah IPTN, yang memerlukan subsidi.

Ketika masa reformasi, IMF mencantumkan dalam LOI (Letter Of Intent), bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh lagi memberikan subsidi kepada IPTN, (Perusahaan ini kemudian menjadi IPTD). Otomatis perusahaan yang sudah menyusun program produksi baru, terpaksa merumahkan dan mem-PHK- 6000 karyawannya.

Lalu, dalam kesempatan deklarasi pendirian Masyarakat Ilmuwan dan Tehnologi Indonesia (MITI), Habibie menyebut hancurnya IPTN adalah ulah IMF yang menghambat Pemerintah RI membantu pengembangan pesawat terbang dengan mencantumkan klausal pencabutan subsidi dalam Letter Of Intent.


Biodata Lengkap Bapak Habibie:

Nama:Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir:Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama:Islam

Jabatan :
Presiden RI Ketiga (1998-1999)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center

Istri: dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)

Anak:
Ilham Akbar dan Thareq Kemal

Cucu:
Empat orang

Ayah:Alwi Abdul Jalil Habibie

Ibu:
R.A. Tuti Marini Puspowardoyo

Jumlah Saudara:
Anak Keempat dari Delapan Bersaudara

Pendidikan :
1. ITB Bandung, tahun 1954
2. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).
3. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965).
4. Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.

Pekerjaan :
1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.
2. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973
3. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978
4. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
5. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
6. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
7. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
8. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
9. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.

Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI

Penghargaan:
Theodore van Karman Award


Sumber::
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/habibie-bj/biografi/index.shtml

Biografi Fadel Muhammad

Posted by Biografi | Profil | Biodata Monday, 1 March 2010 0 comments
Biografi Fadel Muhammad - Biografi Menteri Indonesia Bersatu Jilid II

Ir H Fadel Muhammad, seorang pengusaha dan politisi kelahiran Ternate, 20 Mei 1952 bertepatan hari kebangkitan nasional. Dia anak sulung dari orangtuanya, yang pedagang antarpulau dan guru. Nama Fadel diberikan oleh kakeknya yang melihat dari mata batinnya, bahwa cucunya itu kelak akan lebih baik dan berbeda dengan teman-temannya. Sejak kecil memang perbedaan itu tampak dari perilaku kesehariannya yang bersahaja dan selalu patuh pada orangtua.

Dia menikmati masa remaja idi Gorontalo dan Ternate. Setelah tamat SMA di Ternate, Fadel melanjut ke ITB. Ketika itu kakeknya berpesan, agar Fadel bisa jadi pelaku sejarah dan bukan hanya pembaca sejarah. Semasa kuliah di ITB, dia pun meraih prestasi gemilang. Tahun 1975 dia mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan. Kemudian mendapat beasiswa dari Caltex dan grant dari Mitsubishi. Fadel mendapatkan tawaran beasiswa untuk belajar di Institut Teknologi California, namun tawaran tersebut ditolaknya.

Jiwa wiraswastanya sudah mulai tampak sewaktu dia masih mahasiswa. Saat itu, antara lain, dia mengubah pola bisnis koperasi mahasiswa, sepenuhnya dikelola mahasiswa. Dia mengkapitalisasi brand ITB untuk memajukan bisnis koperasi itu.

Setelah meraih gelar insinyur tahun 1978, Fadel memilih jadi pengusaha. Dia mendirikan PT Bukaka Teknik Utama. Usahanya berkembang. Kemudian dia juga menjadi eksekutif dan sekaligus pemilik di sejumlah perusahaan nasional dan joint venture dengan perusahaan asing berskala dunia.

Mantan Bendahara DPP Golkar ini terpilih menjadi Gubernur Provinsi Gorontalo dan memimpin daerah ini sejak 10 Desember 2001. Periode pertamanya berakhir 10 Desember 2006 dan dia terpilih kembali melalui Pilkada langsung oleh rakyat dengan suara yang sangat signifikan 80% lebih (tertinggi dari seluruh Pilkada Gubernur). Selain menjabat Gubenrhur Gorontalo, dia juga menjabat Ketua DPD I Golkar di Gorontalo.

Sebagai gubernur, visinya jelas, membangun Gorontalo dari ketertinggalannya agar mandiri. Berbudaya. Bersandar pada moralitas agama. Fadel bertekad mengakselerasi pembangunan Gorontalo sebagai provinsi baru (dimekarkan dari Provinsi Sulawesi Utara pada 2001) untuk mengejar ketertinggalan wilayahnya dari propinsi-propinsi lain.

Menurut Fadel, menjadi gubernur adalah untuk melayani masyarakat dan menjadikan masyarakatnya mandiri. Untuk mewujudkan hal itu dia melakukan banyak acara dan kegiatan.

Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) 1978, juga salah seorang pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Setelah menjabat Gubernur Gorontalo, yang fokus mengembangkan pertanian jagung, Fadel dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Dewan Jagung Nasional.

Fadel pun bisa mewujudkan pesan sang kakek. Sebagai mahasiswa, pengusaha, politisi dan  gubernur di daerah asalnya, Fadel sudah mewujudkan pesan kakeknya. Dia memang sudah jadi pelaku sejarah. Dialah yang membawa Gorontalo mengejar ketinggalan.

Salah satu tindakan bersejarah dari kebijakan Fadel adalah pembenahan bandara Limboto. Ketika menerima 500 calon jamaah haji dari Gorontalo, Fadel memaparkan bahwa calon jamaah haji itu tidak perlu lagi harus menempuh jalan darat ke Manado. Sehingga para calon jemaah haji bisa terbang menggunakan pesawat dari Limboto menuju Tanah Suci.

Menjelang tutup tahun 2006 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada para tokoh, pejabat dan masyarakat umum yang dianggap berprestasi dalam berbagai hal. Salah satunya adalah Citra Pelayanan Prima yang dianugerahkan kepada Fadel.

Biodata Lengkap Fadel Muhammad

Nama:Ir H Fadel Muhammad
Lahir:Ternate, 20 Mei 1952
Agama:Islam
Jabatan Teralkhir: Mantan Menteri Kelautan
Isteri:Hana Hasanah
Anak:
Fikri, Faiz, Fauzan
Saudara:
Jehan Nabila, Tania

Pendidikan:
• Fakultas Teknik Industri, Departemen Teknik Fisika ITB, (1972 - 1978)
• Kandidat Doktor program studi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Gadjah Mada (2005)

Karir:
• Pengusaha
• Politisi (Partai Golkar)
• Gubernur Gorontalo

Karir Pengusaha:
- Presiden Komisaris/Chairman dari beberapa perusahaan berskala dunia yang dikembangkan sejak awal bersama dengan:
a. PT ARCO CHEMICAL INDONESIA / PT LYONDELL INDONESIA /PT BAYER URETHANES INDONESIA (1987-2004)
(Group ARCO/LYONDELL/BAYER Germany - bidang Petrochemical Industries)
b. PT DOWELL ANADRILL SCHLUMBERGER INDONESIA (1985 -2004) (Group SCHLUMBERGER Perancis, U.S.A, - bidang Oil & Gas Services)
c. PT GEMA BAKER NUSANTARA / PT DWI SENTANA PRIMA (1983-2003) (Group BAKER TOOLS U.S.A - bidang Oil & Gas Services)
d. PT GEMA SEMBROWN / PT SEMBAWANG MARITIME OILFIELD ENGINEERING Indonesia (Joint Venture dengan Group SEMBAWANG Singapore dan Group BROWN & ROOT U.S.A - Bidang Steel Fabricator on Oil & Gas Industry) sejak 1988
e. PT NESIC BUKAKA (Group NEC Japan - bidang telekomunikasi) sejak 1993
- Komisaris Utama INTAN Group (1995-2004), bidang Asuransi dan Keuangan
- Komisaris Utama WARTA Group (1989 - sekarang), bidang Publishing
- Komisaris Utama SIERAD Group (1994 - 1999), bidang Food Industry
- Presiden Direktur BUKAKA Group (1987- 1997), bidang Heavy Industry
- Komisaris Utama BATAVINDO Group (1995 - 2000), bidang Petrochemical

Karir Pemerintahan:
- Gubernur Provinsi Gorontalo (periode 2001 - 2005)
- Ketua Dewan Pembina Badan Kerjasama Pembangunan Regional se-Sulawesi/BKPRS (periode 2003 - 2005)
- Wakil Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia
(periode 2003 - 2007)
- Ketua Dewan Jagung Indonesia (periode 2004)

Legislatif:
- Anggota MPR-RI, Utusan Daerah Periode 1999-2004
Utusan Golongan Periode 1992-1997
Ketua Komisi D, FKP,MPR RI (Sidang Umum 1998)
Anggota Badan Pekerja (1992-1993)

Organisasi Usaha/Profesi:
- Anggota Dewan Pertimbangan KADIN INDONESIA sejak 2003
- Anggota Dewan Pengurus Harian KADIN INDONESIA:
* Ketua Bidang Industri Logam, Mesin, Kimia dan Agroindustri
Periode 1999 - 2003
* Ketua Bidang Industri Periode 1994 - 1999
* Ketua Kompartemen Industri Mesin dan Logam Dasar Periode 1989 - 1994
- Anggota PII (Persatuan Insinyur Indonesia)
- Anggota CEO (Chief Executive Organization)
- Anggota PATI (Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia)
- Anggota ASME (The American Society of Mechanical Engineers)

Organisasi Politik:
- Bendahara Umum DPP PARTAI GOLKAR Periode 1999 - 2004
- Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP GOLKAR
Periode 1993 - 1998
- Ketua DPP Majelis Dakwah Islamiyah Bidang Kepemudaan
Periode 1989 - 1994

Lain-Lain:
- Dewan Kurator Universitas Al-Khairaat dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Khairaat, Palu
- Anggota Dewan Kehormatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)
- Anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Periode 1996-2001
- Ketua Departemen Pembinaan Ekonomi Lemah dan Kemasyarakatan (ICMI) Periode 1990-1995
- Nara Sumber Dewan Keamanan Nasional dalam penyusunan bahan-bahan untuk GBHN Periode 1993-1998
- Ketua Harian Tim Asistensi Pengembangan Indonesia Bagian Timur รข€“ KADIN Periode 1993-1997
- Bendahara Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB)
Periode 1987 - 1992
- Sekretaris Jenderal Indonesia Shipowner Association (INSA)
Periode 1986 - 1988


Pengalaman Dalam Kegiatan Internasional:

- Vice President ASEAN Business Forum
- Anggota Chapter Committee Forum Internasional Young President Organization (YPO)
- Ketua Working Group on Industrial Cooperation ASEAN Chambers of Commerce and Industry (WGIC ASEAN CCI)
- Ketua Working Group on Industrial Cooperation of Conferedreation of Asia-Pacific Chambers of Commerce and Industry (WGIC - CACCI)
- Ketua Penyelenggara Industrialists Roundtable ASEAN-European Union, Jakarta, 1997
- Ketua Pelaksana Dialog Industri Barang Modal Timur-Tengah, Jakarta, 1989

Alamat Kantor:
Gubernur Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kel. Botu, Kota Timur, Kota Gorontalo, Telp. +62-0453-821277 Fax. 0435-828281

Alamat Rumah Jakarta:
Jalan Suwiryo, Menteng, Jakarta Pusat

Referensi: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/fadel-muhammad/index.shtml

Biografi Fahmi Idris

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Fahmi Idris

Pria kelahiran Gang Kenari, Jakarta Pusat, 20 September 1943, ini sempat dipecat dari keanggotaan dan kepengurusan DPP Partai Golkar, akibat aktivitasnya mendukung SBY-JK menjelang Pilpres putaran kedua. Dia memprakarsai Forum Pembaharuan Partai Golkar dan menentang Koalisi Kebangsaan (hasil Rapim Partai Golkar) yang mendukung Mega-Hasyim.


Namun setelah pasangan SBY-JK terpilih jadi Presiden dan Wakil Presiden, Fahmi diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kemudian setelah Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar, keanggotaannya di Golkar dipulihkan dan diangkat jadi Anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar.


Mantan Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII ini di kala kecil dikenal bengal -- senang menantang teman-temannya berkelahi. Kala itu dia bercita-cita menjadi tentara. Pengagum Jenderal De Gaulle itu sangat tertarik melihat kegagahan dan sikap heroik tentara. Cita-cita itu tidak tercapai. Dia malah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tapi tidak rampung. Namun sikap heroiknya terasa tersalurkan ketika dia turut ambil bagian menggusur Orde Lama, 1966.

Mantan Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966), ini tidak merampungkan kuliah ekonominya di Universitas Indonesia untuk merintis usaha. Bakat wiraswastanya menurun dari ayahandanya Haji Idris gelar Marah Bagindo, seorang pedagang. Walaupun kemudian dia melanjutkan studinya ke Fakultas Ekonomi Extension UI dan pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973).

Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968), ini memulai berusaha bersama rekan-rekan eksponen 66. Mereka mendirikan PT Kwarta Daya Pratama, 1969. Kemudian aktif dalam 10 perusahaan. Di antaranya, PT Kodel (Kelompok Delapan), bersama Soegeng Sarjadi, Ponco Nugro Sutowo, Jan Darmadi, dan Aburizal Bakrie, bergerak di bidang perdagangan, industri dan investasi. menantu KH Hasan Basri, ini juga menjadi direktur di PT Krama Yudha, baik perusahaan patungan mobil dengan Jepang maupun divisi kawat las yang bekerja sama dengan Philips dari Negeri Belanda.

Perusahaan lainnya adalah PT Parama Bina Tani, PT Delta Santana, PT Wahana Muda Indonesia, PT Dharma Muda Pratama, PT Ujung Lima, dan CV Pasti. Perusahaan-perusahaan tersebut membidangi usaha agrokimia, perlengkapan industri minyak dan gas bumi, konstruksi dan rekayasa untuk pabrik metanol di Bunyu, pergudangan dan muatan, dan transpor.

Kemudian suami dari Kartini Hasan Basri, psikolog di RS Cipto Mangunkusumo, ini berkiprah dalam politik praktis. Pada 3 Maret 1984, bersama sejumlah eksponen 66, bekas tokoh HMI ini meneken pernyataan masuk Golkar, langsung di hadapan ketua umumnya, Sudharmono. Dia memilih Golkar, karena dia melihat adanya aspek kemanusiaan yang menampung semua persamaan pikiran dan hobi di Golkar.

Biodata Lengkap Fahmi Idris

Nama :Fahmi Idris
Lahir :Jakarta, 20 September 1943
Agama :Islam
Isteri:Kartini Hasan Basri

Pendidikan :
-SD, Jakarta (1956)
-SLP, Jakarta (1959)
-SLA, Jakarta (1962)
-Fakultas Ekonomi UI, Jakarta (1962 tidak selesai)
-Melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Extension UI
-Pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973)
-LPPM, Jakarta dan Lembaga Managemen FE UI

Karir :
-Direktur CV Pasti (1967-1968)
-Direktur PT Ujung Lima (1968-1969)
-Presiden PT Kwarta Daya Pratama (sejak 1969)
-Manajer Utama PT Krama Yudha (1973-1976)
-Direktur PT Krama Yudha (sejak 1976)
-Wakil Presiden PT Parama Bina Tani (sejak 1980)
-Direktur PT Dharma Muda Pratama (sejak 1981)
-Wakil Ketua PT Wahana Muda Indonesia (sejak 1983)
-Ketua PT Delta Santana (sejak 1984)
-Presiden PT Kodel (sejak 1979)
-Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII

Kegiatan lain:
-Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966)
-Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968)
-Anggota DPRGR (1966-1968)


Alamat Rumah :
Jalan Duren Tiga VII No. 4, Jakarta Selatan

Referensi: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/fahmi-idris/index.shtml

Biografi Goenawan Susatyo Mohamad - Sastrawan

Posted by Biografi | Profil | Biodata Friday, 26 February 2010 0 comments
Biografi Goenawan Susatyo Mohamad

Goenawan Susatyo Mohamad merupakan seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom "Catatan Pinggir" di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini  pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair.  Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.



Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. "Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang," tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

Biodata Lengkap Goenawan Susatyo Mohamad

Nama:Goenawan Susatyo Mohamad
Lahir:Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941
Agama:Islam

Istri:
Widarti Djajadisastra

Anak:
2 orang

Pendidikan:
- SR Negeri Parakan Batang, (1953)
- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
- SMA Negeri Pekalongan, (1959)
- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)

Karya Tulis:
- Parikesit, (kumpulan puisi, 1973)
- Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (esei), (Pustaka Jaya, 1974)
- Interlude, (puisi, 1976)
- Sex, Sastra, Kita (esei), (Sinar Kasih 1980)
- Catatan Pinggir, (Grafitipers, 1982)

Penghargaan:
- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists), (1998)
- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)
- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)
- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)

Organisasi dan Karir:
- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)
- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)
- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)
- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)
- Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang)

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/g/goenawan-mohamad/index.shtml