Biografi Deddy Mizwar - Sutradara Film

Posted by Biografi | Profil | Biodata Saturday, 6 March 2010 0 comments
Biografi Deddy Mizwar
Nama Lengkap: Deddy Mizwar
Tanggal Lahir: Jakarta, 5 Maret 1955

Sutradara, produser, sekaligus aktor kawakan, Deddy Mizwar, dikenal aktif memproduksi film dan sinetron bernuansa dakwah dengan pesan moral dan agama yang ringan dan menghibur. Aktor senior pemenang 4 piala Citra (untuk film) dan 2 piala Vidya (untuk sinetron) ini sudah berpengalaman membuat sejumlah sinetron bermuatan dakwah dari serial Pengembara, Mat Angin sampai Lorong Waktu.

Kecintaan aktor asli Betawi ini pada dunia seni tidak terbantahkan lagi. Buktinya, selepas sekolah, ia sempat berstatus pegawai negeri pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Namun ayah dari 2 anak ini hanya betah 2 tahun saja sebagai pegawai karena ia lebih gandrung main teater – ia bergabung di Teater Remaja Jakarta. Selebihnya, jalan hidupnya banyak ia baktikan pada dunia seni, lebih tepatnya seni peran.

Darah seni itu rupanya mengalir deras dari ibunya, Ny. Sun'ah yang pernah memimpin sangar seni Betawi. Akhirnya, ia dan ibunya kerap mengadakan kegiatan seni di kampung sekitarnya. "Pertama kali manggung, saat acara 17 Agustus-an di kampung. Saya bangga sekali waktu itu, karena ditepukin orang sekampung. Saya pun jadi ketagihan berakting," kenang Deddy.

Kecintaannya pada dunia teater telah mengubah jalan hidupnya. Beranjak dewasa, sekitar tahun 1973, Deddy mulai aktif di Teater Remaja Jakarta. Dan lewat teater inilah bakat akting Deddy mulai terasah. Deddy pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater Remaja di Taman Ismail Marzuki. Tidak sekedar mengandalkan bakat alam, Deddy kemudian kuliah di LPKJ, tapi cuma dua tahun.

Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerja keras dan mencurahkan kemampuan aktingnya, di berbagai film yang dibintangi. Pertama kali main film, dalam Cinta Abadi (1976) yang disutradarai Wahyu Sihombing, dosennya di LPKJ, dia langsung mendapat peran utama. Puncaknya, perannya di film Naga Bonar kian mendekatkannya pada popularitas. Kepiawaiannya berakting membuahkan hasil dengan meraih 4 Piala Citra sekaligus dalam FFI 1986 dan 1987 diantaranya: Aktor Terbaik FFI dalam Arie Hanggara (1986), Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam Opera Jakarta (1986), Aktor Terbaik FFI dalam Naga Bonar (1987), dan Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam Kuberikan Segalanya (1987).

Di awal tahun 90-an, karir Deddy Mizwar mencapai puncak. Melalui kekuatan aktingnya yang mengagumkan, popularitas ada dalam genggamannya. Meski namanya semakin populer, Deddy merasa hampa. Di tengah rasa hampa, pikirannya membawanya kembali pada masa kecilnya. Lahir di Jakarta 5 Maret 1955, ia tumbuh di tengah nuansa religius etnis Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di masa kecil itu.

Pergolakan batinnya akhirnya berakhir setelah ia meyakini bahwa hidup ini semata-mata beribadah kepada Allah. Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini segala hal harus bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada bidang yang digelutinya yakni dunia perfilman dan sinetron.

Suami dari Giselawati ini kemudian memutuskan untuk terjun langsung memproduksi sinetron dan film bertemakan religius sebagai wujud ibadahnya kepada Allah. Didirikanlah PT Demi Gisela Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah bulat kendati pada perkembangan berikutnya banyak rintangan dan hambatan ditemui.

Ketika itu sinetron religius Islam masih menjadi barang langka dan kurang bisa diterima pihak stasiun televisi. Kondisi ini tidak menyurutkan langkahnya. Maka dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara yang tayang di bulan Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating sinetron ini cukup menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. ''Berjuangnya sungguh keras tapi setelah itu semua orang bisa menikmati,'' kata Deddy bangga.

Diakuinya produk sinetron yang bernafaskan religius Islam sulit mendapatkan tempat di stasiun televisi selain di bulan Ramadhan. Hal ini disebabkan stasiun teve terlampau under estimate di samping memang tidak banyak sineas yang mau membuat tayangan sinetron religius di luar bulan Ramadhan.

Dalam pandangan Deddy Mizwar, film merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat luas termasuk kalangan non-Muslim. ”Saya contohkan sinetron ‘Lorong Waktu’ yang ternyata diminati pula oleh warga non-Muslim. Bahkan, saat ini ‘Lorong Waktu’ diputar ulang di luar bulan Ramadan hingga saya berkesimpulan sinetron atau film dakwah tak harus identik dengan bulan Ramadan,” katanya. Dengan kata lain, masyarakat rupanya mau menerima dan menyambut hangat tayangan religius di luar Ramadhan.

Ke depan, Deddy akan terus berusaha konsisten memproduksi film dan sinetron religius.
Ia juga menyarankan agar umat Islam mendirikan stasiun TV sendiri, sehingga umat Islam memiliki alternatif dalam memilih stasiun TV maupun acaranya. ”Sudah waktunya umat Islam mengisi dan mewarnai acara-acara TV. Saya melihat potensi ke arah itu cukup besar terutama dari kalangan sineas muda dan mahasiswa,” kata aktor yang telah membintangi sekitar 70 film layar lebar ini penuh optimisme.

Biodata Lengkap Deddy Mizwar

Nama: Deddy Mizwar
Lahir: Jakarta, 5 Maret 1955
Isteri: Giselawaty Wiranegara

Anak:
Senandung Nacita dan Zulfikar Rakita

Prestasi:
Aktor Terbaik FFI dalam Arie Hanggara 1986
Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam Opera Jakarta 1986
Aktor Terbaik FFI dalam Naga Bonar 1987
Pemeran Pembantu Terbaik FFI dalam kuberikan segalanya 1987
Pemeran Pembantu Piala Terbaik Piala Vidia FSI dalam Vonis Kepagian 1996
Aktor Terbaik dan Sutradara Terbaik sekaligus Sinetron Terbaik FSI dalam Mat Angin 1999
Unggulan FFI (12 kali):
Bukan Impian Semusim FFI 1982
Sunan Kalijaga FFI 1984
Saat-saat Kau Berbaring Di dadaku FFI 1985
Kerikil-kerikil Tajam FFI 1985
Kejarlah Daku Kau Kutangkap FFI 1986
Ayahku FFI 1988
Putihnya Duka Kelabunya Bahagia FFI 1989
Dua Dari Tiga Lelaki FFI 1990
Jangan Renggut Cintaku FFI 1990

Sinetron:
Pengembara
Lorong Waktu
Adillah

Film:
Kiamat Sudah Dekat ( VCD )
Naga Bonar
Plong ( VCD )
Hatiku Bukan Pualam
Cinta Abadi
Sunan Kalijaga & Syech Siti Jenar

Source: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/d/deddy-mizwar/index.shtml

Profil Negara Pakistan

Posted by Biografi | Profil | Biodata Friday, 5 March 2010 0 comments
Profil Singkat Negara Pakistan


Nama Negara: Pakistan
Bentuk Pemerintahan: Republik Islam Pakistan
Ibukota : Islamabad

Populasi: 165.803.560 jiwa (2007) / 97% muslim
Ekspor Utama: Tekstil, beras, kulit, produk, olahraga, dll
Impor Utama: Minyak bumi, permesinan,peralatan transportasi, dll.
Bahasa: Urdu (resmi), Sind, Punjabi,Inggris

Di timur, Pakistan berbatasan dengan India. Di barat, berbatasan dengan Iran dan Afghnistan: Di utara, dengan Afghanistan dan Cina. Di selatan, dengan laut Arab dan teluk Oman. Luas Pakistan adalah 703.943 Km; yang terbagi atas empat propinsi: Baluchistan, Sindh, Punjab dan wilayah Barat Daya. Pakistan bertetangga dengan dua negara besar di dunia: India dan Cina. Pakistan menjalin hubungan baik dengan Barat di satu pihak, sedangkan disisi lain dengan Cina Komunis.

Berdirinya Republik Islam Pakistan tidak lepas dari peran seorang pengacara muslim Muhammad Ali Jinnah. Pada awalnya, berdirirnya Pakistan merupakan problem tersendiri, terutama dalam mencari alasan atau raison d’etre Pakistan merdeka. Apakah the founding fathers Pakistan bermaksud mendirikan Negara Islam atau tengah berupaya membangun Tanah Air bagi orang Islam? Lebih dari itu, apakah kekhawatiran sebagai warga minoritas di India yang mayoritas Hindu dapat dijadikan alasan berdirinya Pakistan merdeka.

Elan dasar pendirian "Republik Islam" ini, seperti terartikulasikan dalam gagasan pendiri-pendirinya adalah kehendak komunitas muslim --sebagai bangsa terpisah di anak benua India-- untuk membentuk negara di mana mereka mampu menerapkan ajaran Islam dan hidup selaras dengan petunjuknya.

Berbagai teori telah dimunculkan tentang alasan-alasan pokok berdirinya Pakistan sebagai sebuah negara dengan identitas Islam. Pada 23 Maret 1947 Liga Muslim India (All Indian Moslem League) mengeluarkan resolusi yang terkenal dengan nama Resolusi Pakistan. Dalam resolusi tersebut, kaum Muslim India dipimpin Muhammad Ali Jinnah, yang juga Bapak Negeri Pakistan, berjanji memperjuangkan terbentuknya negara muslim.

Pendirian Liga Muslim mengawali munculnya gerakan nasionalisme India, pada awalnya merupakan respon terhadap gerakan nasionalisme Hindu yang disuarakan Partai Kongres Nasional India. Liga Muslim didirikan oleh sekelompok intelektual Muslim India yang pada perkembangannya menuntut terbetuknya pemerintahan sendiri. Tokoh yang terkenal dari organisasi ini adalah Muhammad Ali Jinnah.

Di bawah kepemimpinan Jinnah, ide negara Pakistan semakin berkembang dan pada tahun 1940 menjadikan pembentukan Pakistan sebagai tujuan perjuangan. Tujuan itu menjadi kenyataan saat Pakistan diproklamirkan sebagai negara merdeka pada 14 Agustus 1947, dan kenyataannya, Pakistan merdeka sehari lebih cepat dari India yang dimerdekakan 15 Agustus 1947

Berdirinya Pakistan didasarkan atas realitas bahwa masyarakat muslim yang meliputi wilayah Sind, Punjab, Baluchistan, provinsi di Barat Laut dan Benggala merupakan sebuah bangsa yang berhak atas wilayah mereka sendiri. Meskipun banyak yang meragukan klaimnya sebagai sebuah bangsa, namun sesuatu yang pantas diberi nilai adalah kenyataan geografis Pakistan yang merupakan anak benua India yang nyaris lepas dari peradaban induknya, yaitu India.

Pakistan dibentuk oleh elit-elit muslim yang memobilisasi sumberdaya Muslim India Barat Laut untuk menentang kebijakan Inggris yang berseberangan dengan kepentingan kelompok muslim. Kemungkinan lainnya adalah teori Francis Robinson yang menyatakan terbentuknya Pakistan dari faktor ideologi terutama doktrin Ummah yang mendorong elit-elit muslim mengupayakan perlindungan budaya muslim dan otonomi yang lebih besar bagi kaum muslim di Provinsi Kesatuan Barat Laut dan Bengal.

Senada dengan Robinson, David Taylor mengesankan terbentuknya Pakistan sebagai ekspresi politik muslim kelas atas (elit) yang memahami kenyataan berbedanya identitas keagamaan dan sosial politik mereka dengan kekuatan-kekuatan lainnya di anak benua India.

Tuntutan kaum elit ini menurutnya selain mewakili permasalahan kaum elit Pakistan, juga didukung oleh kesadaran komunal akan pentingnya negara bagi komunitas Muslim. Selain itu ia juga menemukan fakta dalam kasus-kasus tertentu yang melibatkan massa yang menuntut pemenuhan kebutuhan asasinya sebagai orang Islam juga tidak bisa disepelekan. Artinya, dalam waktu-waktu tertentu, tuntutan elit bisa senada dengan tuntutan arus bawah muslim.

Sementara itu dengan pertanyaan yang hampir sama dengan Robinson, Karen Amstrong menilai pendirian Pakistan justru diilhami cita-cita sekuler modern. Sejak masa Aurengzeb, Muslim di India merasa sedih dan tidak aman, mereka mengkhawatirkan identitas mereka dan berkem¬bangnya kekuasaan mayoritas Hindu.

Hal ini semakin parah setelah pemisahan India dari Inggris pada tahun 194¬7 ketika kekerasan komunal memuncak di kedua belah pihak dan ribuan orang tewas. Jinnah ingin membangun arena politik yang tidak menekan atau membatasi identitas religius Muslim. Akhirnya ia mempertanyakan: “apa maknanya negara Islam yang menggunakan sebagian besar simbol-simbol Islam untuk tujuan "sekuler"?

Esposito juga berkesimpulan: “aspirasi Islam memang merupakan raison d'etre-berdirinya Pakistan, tetapi meskipun terdapat persetujuan umum mengenai pentingnya suatu tanah air Islam, namun apa yang dimaksud tidak begitu jelas. Perbedaan pandangan dan pendekatan antara kaum modernis dan tradisionalis merupakan halangan yang cukup besar, dan belum pernah diusahakan secara sistematis untuk menjelaskan ideologi Islam Pakistan dan bagaimana melaksanakan ideologi itu secara konsisten.

Dari beberapa teori ini, paling tidak yang paling memungkinkan adalah bahwa gagasan nasionalisme yang datang dari barat telah membantu mempercepat kelahiran Pakistan sebagai negara bangsa. Dalam hal ini, Badri Yatim menyebutkan, gagasan nasionalisme merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka, yang bebas dari pengaruh politik Barat.

Praktek Islamisasi Pakistan

Periode 1947-1970

Sebagaimana disinggung di atas, Islam merupakan raison d'etre dari dibaginya India dan di¬dirikannya Pakistan sebagai suatu negara-bangsa yang berdiri sendiri tahun 1947. Walaupun Is¬lam telah digunakan untuk memobilisasikan dan mempersatu¬kan orang Islam di waktu gerakan kemerdekaan, namun sedikit sekali terdapat konsensus mengenai masalah-masalah fundamen¬tal seperti: "Apakah artinya kalau dikatakan bahwa Pakistan ada¬lah sebuah negara Islam modern? Bagaimana menggambarkan watak keislamannya dalam ideologi dan lembaga-lembaga nega¬ra?"

Dengan memperhatikan periode tahun 1947-1970 ternyata bahwa hasilnya amat tidak memuaskan. Tidak adanya kestabilan politik dan perbedaan yang tajam antara golongan tradisionalis dan mo¬dernis sedikit sekali memberikan sumbangan kepada perkem¬bangan suatu ideologi Islam yang mapan yang dapat berguna se¬bagai dasar dari persatuan nasional di tengah-tengah perbedaan-¬perbedaan bahasa dan regional yang amat luas terdapat di Pakis¬tan.

Kesimpulan yang diambil kebanyakan pengamat Pakistan adalah, dari periode 1947 hingga 1970 tersebut, Pakistan lebih banyak berdebat tentang bagaimana ideology Islam itu dapat diterapkan dalam negara. Perdebatan itu meliputi tokoh modernis, nasionalis sekuler dan kelompok Islamis tradisionalis yang menginginkan syari’at Islam diterapkan secara ketat.

Misalnya, Abul A'la Maududi (1903-1979) mewakili kaum tradisionalis, mendesak dite¬rapkannya norma-norma Syariah yang lebih ketat, sehingga pada tahun 1956, sebuah konstitusi secara resmi menjadikan Pakistan sebagai Republik Islam. Ini mewakili sebuah aspirasi yang kini hidup kembali dalam institusi-institusi politik negara tersebut. Sementara Fazlur Rahman mewakili kaum modernis memberikan gambaran tentang negara Islam yang lebih modern berdasarkan kedaulatan rakyat.

Pemerintahan Jenderal Muham¬nad Ayub Khan (1958-1969) adalah contoh khusus sekularisme berlebihan sekaligus dictator militer. Dia menasionalisasi sumbangan-sumbangan religius (auqah), nembatasi pendidikan madrasah, dan mengembangkan sistem hukum sekuler. Tujuannya adalah menjadikan Is¬am sebagai agama sipil, yang bisa dikendalikan negara, tetapi keinginan ini menyebabkan ketegangan dengan para ahli agama Islam dan menyebabkan jatuhnya pemerin¬tahan Khan.

Selama tahun 1970-an, kekuatan para ahli agama Islam menjadi kekuatan oposisi utama melawan pemerintahan, dan sebagai seorang beraliran kiri dan sekularis Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto (1971-1977) meredakan gerakan mereka dengan melarang judi dan alkohol, Tetapi pada periode ini akhirnya Pakistan tetap digerakkan dengan semangat sekuler.

Hal ini melegitimasi kenyataan, meskipun Pakistan menyatakan dirinya sebagai negara Islam, tidak satupun program yang pernah disusun untuk menerapkan Islam. Dalam rentang waktu 30 tahun itu, tidak heran muncul tudingan bahwa Islamisasi tidak lebih hanya sebagai contoh penggunaan Islam sebagai alat oleh rezim yang berkuasa untuk menegakkan keabsahan politiknya.

Periode 1971-sekarang

Islamisasi mula-mula muncul sebagai kebijakan negara yang lahir di bawah pemerintahan Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin oleh Zulfikar Ali Bhutto (1971-1977). Ali Bhutto datang membawa tawaran baru, yaitu mengawinkan Islam dengan Sosialisme. Upaya ini mendapat sambutan hangat dari rakyat Pakistan.

Bhutto mempergunakan ungkapan-ungkapan keagamaan yang mampu membangkitkan emosi, seperti misalnya Musawat-i¬ Muhammadi (persamaan Muhammad) dan Islami Musawat (persamaan Islam) sebagai bagian dari ke¬pandaian mengucapkan pidato politik untuk membe¬narkan kebijakan pemerintahannya yang bersifat sosialis dan untuk memperoleh dukungan massa bagi kebijakannya.

Pada tahun 1974 pemerintahannya juga bertanggung jawab atas terjadinya kampanye panjang pada dasawarsa itu sehingga pengikut sekte Ahmadiyyah menganggap pendiri sekte itu, Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi, dan dengan demikian mereka menolak pilar Islam bahwa Muhammad ada¬lah utusan Tuhan yang terakhir.

Setelah parlemen mengeluarkan peraturan hukum yang menyatakan bahwa Ahmadiyyah adalah minoritas non-muslim dan ketetapan dalam Undang Undang tahun 1973 yang mengharuskan jabatan presiden dan perdana menteri dipegang oleh orang-orang Islam, sumpah jabatan di¬ubah agar penegasan bahwa Muhammad adalah nabi yang terakhir bisa dimasukkan ke dalamnya.

Ketika agitasi anti pemerintah (dipimpin oleh Persekutuan Nasional Pakistan yang pemimpin-pe¬mimpinnya menggunakan Islam untuk menggerak kan orang-orang melawan pemerintahan Bhutto) pecah di pusat-pusat pertokoan utama, pemerintah berusaha untuk mengakhiri keadaan ini dengan mengumumkan reformasi , “Islam” dengan menentu¬kan Jum’at dan bukannya Minggu sebagai hari libur umum mingguan dan mengumumkan langkah-lang¬kah yang melarang pemakaian alkohol, perjudian dan pacuan kuda. Manifesto pemilihan Partai Rakyat Pakistan tahun 1977 juga memasukkan persetujuan partai untuk:

1.Menjadikan pengajaran al Quran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan umum.
2.Mengembalikan masjid ke tempat tradisionalnya selaku pusat terpenting masyarakat.
3.Mendirikan Akademi Ulama Negeri untuk mendi¬dik Imam dan Khatib di masjid-masjid.
4.Menjadikan tempat keramat orang suci yang ter¬hormat sebagai pusat pengajaran Islam.
5.Meningkatkan fasilitas untuk orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji.
6.Memperkokoh Institut Penelitian Islam di Islam¬abad.

Akan tetapi program Islamisasi ini menurut Riaz Hassan tidak lebih hanya sekadar respon untuk menenangkan kelompok urban yang menentang kebijakan ekonominya. Program ini secara kasat mata tidak lebih pada pengakuan dan perbaikan aspek simbolis Islam sebagaimana awal pendiriannya.

Ali Bhutto akhirnya dijatuhkan melalui kudeta Angkatan Bersenjata di bawah pimpinan Jenderal Zia ul-Haq Juli 1977 dengan alasan tingkah lakunya yang tidak Islami dan keakrabannya dengan isu demokrasi kebarat-baratan, kemudian ia digantung dengan tuduhan terlibat konspirasi untuk membunuh ayah politisi Ahmed Reza Kasuri.

Ali Bhutto kemudian digantikan oleh Ziaul-Haq, yang mengembalikan aturan pakaian tradisional Muslim dan memberlakukan kembali hukuman yang Islami dan hukum komersial. Tetapi Presi¬den Zia sendiri juga menjauhkan Islam dari masalah¬-masalah politik dan ekonomi yang didukung oleh kebijakan¬-kebijakan sekularis.

Secara populer, upaya Islamisasi Pakistan itu ia sebut dengan Nizam-i- Islami. Usaha yang dikampanyekan oleh Zia ul-Haq dalam rangka Islamisasi antara lain:

1.Menegaskan kembali tujuan negara (objektif resolution) Pakistan, yaitu Islam. Konsekwensinya sistem (ajaran) Islam harus diterapkan di negara Pakistan;
2.Pembentukan mahkamah-mahkamah Syar’iyyah, yang bertujuan meletakkan supremasi syari’ah di atas hukum positif. Pada kasus tertentu ia juga melakukan penyesuaian hukum-hukum positif dengan hukum Islam;
3.Membangun prinsip negara kesejahteraan (welfare state) dengan membentuk pemungutan zakat dan ‘usyr (pajak yang dipungut dari hasil pertanian);
4.Serta menyatakan perang terhadap sistem perekonomian yang berbasis riba.

Bagaimanapun, kampanye dan program Nizam-i-Islami itu tidak lebih sebagai pendekatan politik penerapan hukum Islam yang pada akhirnya disikapi secara politis oleh kelompok oposisi. Sementara itu disisi yang lain, respon rakyat terhadap program itu biasa-biasa saja. Akhirnya program itu tidak lebih hanya perdebatan kalangan elit Pakistan.

Dalam hal politik luar negeri, Zia ul-Haq memberi dukungan penuh kepada Mujahidin Afghanistan yang berjuang melawan invasi militer Uni Soviet (1979-1989). Namun, pada 1988, Zia ul-Haq tewas saat helikopter yang ditumpanginya bersama Duta Besar Amerika Serikat di Pakistan meledak. Sejak wafatnya dalam kecelakaan pesawat pada tahun 1988, politik Pakistan didominasi ketegangan etnik, permusuhan, dan skandal-skandal korupsi di antara anggota kelas-kelas elit dan para ahli agama Islam tidak lagi berpengaruh. Islam masih menjadi identitas Pakistan dan ada pada semua kehidupan masyarakat, tetapi tetap tidak berpengaruh pada kehidupan.

Pasca Ziaul Haq, sepertinya program Islamisasi tidak begitu populer lagi di Pakistan. Pakistan tidak lebih seperti negara-negara berkembang lainya yang penuh dengan intrik politik, perdebatan panjang antara Islam dan demokrasi dan yang tak kalah beratnya, internasionalisasi Pakistan, terutama soal nuklir dan terorisme. Tidak heran Pakistan belakangan menjadi barometer keamanan bagi negara muslim di kawasan lainnya, termasuk Asia Tenggara.

Sekilas pemerintahan setelah Zia ul Haq, muncul Benazir Bhutto, putri mendiang Zulfikar Ali Butho, yang menjadi perdana menteri wanita pertama di Republik Islam Pakistan. Terpilihnya Benazir Bhuto merupakan kejutan bagi umat Islam dan juga bagi banyak negara non muslim.

Pemimpin perempuan merupakan suatu yang masih diperdebatkan terutama di Pakistan yang pada Era Zia ul-Haq diharamkan. Benazir Bhuto telah menjadi zaman peralihan dari era perdebatan mengenai identitas Islam kepada wacana hubungan Islam dan demokrasi (termasuk masalah gender), sekaligus menjadi tanda bagi kemenangan demokrasi atas rezim militer.

Platform demokrasi yang ingin ditegakkan oleh Dinasti Bhutto adalah mengkritisi dominasi militer. Akibatnya Benazir selalu berseberangan dengan para jenderal militer. Salah satu janji Benazir jika dia memenangi pemilu dan menjadi PM kembali adalah mengefisiensikan dana militer. Sebuah pilihan demokratis namun tidak populer bagi kalangan militer.

Pada 1990 Benazir digulingkan oleh Presiden Ghulam Ishaq Khan dan lagi-lagi didukung oleh militer karena dituduh korupsi namun ia tidak pernah diadili. Tahun 1993 ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri hingga 1996. Pada tahun 1996, Presiden Farooq Leghari menaggalkan jabatan Benazir atas tuduhan skandal korupsi.

Benazir digantikan Nawaz Sharif, seorang pengikut setia Zia ul-Haq. Sharif menjadi PM setelah Partai Liga Muslimin Pakistan yang dipimpinnya menang pemilu dan mempunyai kursi mayoritas di parlemen. Dalam perjalanan pemerintahannya, Sharif bersitegang dengan militer yang kemudian dikudeta oleh Musharraf yang saat itu duduk dalam struktur Dewan Keamanan Nasional.

Beberapa pemimpin senior militer lalu mendukung Musharraf dalam kudeta damai terhadap Sharif. Kepemimpinan Musharraf pun tetap bertahan setelah didukung dengan partai-partai di Pakistan. Yang menarik justru pada tahun 2006, Nawaz Sharif memutuskan berkoalisi dengan Benazir Bhutto, rival lamanya, dalam Aliansi untuk Pemulihan Demokrasi, demi menggulingkan Musharraf.

Kepemimpinan Musharraf tidak luput dari konflik. Bentrokan berdarah di sejumlah wilayah Pakistan awal Maret 2007 merupakan klimaks dari krisis politik yang menimpa Presiden Pervez Musharraf. Dia memecat Ketua Mahkamah Agung Iftikhar Muhammad Chaudhry karena dituduh menyalahgunakan kekuasaan.

Pihak oposisi menuduh pemecatan itu dilatarbelakangi kekhawatiran Musharraf kalau Chaudhry akan menghalangi niatnya menjadi presiden untuk ketiga kali. Chaudhry juga dikhawatirkan mengubah konstitusi untuk melucuti posisi rangkap Musharraf sebagai panglima angkatan bersenjata. Pemecatan Chaudhry memicu protes luas dari para pengacara dan partai-partai oposisi di seluruh negeri, walau aksi mendukung Musharraf pun dilakukan partai propemerintah Mutahida Qami Movement (MQM). Bentrokan pun tidak terhindarkan.

Kelompok oposisi, baik dari kubu mantan PM Benazir Bhutto yakni Partai Rakyat Pakistan dan kelompok pendukung mantan PM Nawaz Sharif banyak yang menjadi korban akibat bentrokan itu.

Terakhir sebagai kesudahan karir politik Benazir Bhutto, 27 Desember 2007 ia terbunuh oleh serangan tembakan dan bom bunuh diri di Rawalpindi sesaat setelah ia berkampanye untuk posisi PM yang ke tiga kalinya.

Era Perves Musharraf (1999) adalah bukti terkini tentang betapa rumitnya mengurus sebuah negara modern yang diberi nama Republik Islam Pakistan itu. Dalam konstitusinya tercantum dasar filosofi mewah tentang kedaulatan Allah atas alam semesta dan syariah sebagai sumber hukum tertinggi. Dalam realitas, baik gagasan kedaulatan Allah maupun syariah ternyata tidak mampu menolong nasib Pakistan berhadapan dengan konflik suku yang beragam dan sengketa politik yang sering berkuah darah itu.

Biografi Agus Kuncoro Adi - artis

Posted by Biografi | Profil | Biodata Thursday, 4 March 2010 0 comments
Biografi Agus Kuncoro Adi

Nama Lengkap: Agus Kuncoro Adi

Agus Kuncoro Adi adalah seorang bintang akting film dan juga sinetron Indonesia. Debutnya aktingnya diawali lewat film SAUR SEPUH IV yang diangkat dari sandiwara radio, berikutnya disusul TITISAN DARAH BIRU (1991).

Sinetron yang pernah dibintangi pria kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1972 itu di antaranya TUTUR TINULAR (1997) dengan perannya sebagai Raden Wijaya. Kemudian FTV SAYEKTI DAN HANAFI sebagai Hanafi bersama Widi Mulia sebagai Sayekti. Disusul kemudian Dunia Tanpa Koma, Maharani dan Debu Tertiup Angin.

Belakangan suami aktris Anggia Jelita itu juga sukses lewat sinetron berjudul PARA PENCARI TUHAN dengan perannya sebagai Azzam.

Source: kapanlagi.com

Biografi Hadi Utomo - Ketua Umum Partai Demokrat

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 3 March 2010 0 comments
Biografi Hadi Utomo - Anggota DPR

Hadi Utomo, menantu Sarwo Edhi Wibowo dan adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat (PD) periode 2005-2010 dalam Kongres I PD di Sanur, Bali, dini hari pukul 03.35 WITA, 23/5/2005. Dalam pemilihan putaran kedua, Hadi meraih 302 suara menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Subur Budhisantoso 108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara.

Sebelumnya, pada siang hari 22/5/2005, Kongres I PD yang berlangsung di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, dengan mulus memilih Susilo bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina PD. Dewan Pembina ini mempunyai kuasa pembinaan tertinggi dalam tubuh partai itu.

Hadi Utomo kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 15 Agustus 1945, berlatar belakang militer dengan pangkat terakhir kolonel. Dia alumni Akabri angkatan 1970, yang sudah memasuki masa purnawirawan. Dia adalah salah satu kader PD yang terakhir menjabat menjabat Wakil Sekjen DPP. Dia terkenal gigih berjuang dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden 2004. Terakhir di PD. Dia pun terpilih menjadi anggota DPR dari PD periode 2004-2009. Keanggotaan di DPR itu akan dilepaskannya setelah terpilih menjadi Ketua Umum PD.

Proses pemilihan Ketua Umum DPP berlangsung a lot, mulai dari pembahasan persyaratan pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dan suara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) bermasalah. Pemungutan suara tahap pertama dilakukan terhadap delapan bakal calon ketua umum DPP, yakni Agus Abu Bakar, Hamidah Hamid, Subur Budhisantoso, Hadi Utomo, Sutan Bhatoegana, Suratto Siswodihardjo, Nurhayati Ali Assegaf dan Ahmad Mubarok. Pada pemilihan putaran pertama yang berakhir pukul 00.45 WITA, tiga calon masuk putaran kedua yakni Hadi Utomo (264 suara), Subur Budhisantoso (106), dan Suratto Siswodihardjo (72).

Setelah sidang diskor selama 30 menit, pemilihan putaran kedua dimulai. Dalam pemilihan putaran kedua, yang berakhir dini hari pukul 03.35 WITA, 23/5/2005, Hadi meraih 302 suara, menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Subur Budhisantoso 108 suara dan Surato Siswodihardjo 39 suara.

Sebelumnya, persyaratan bakal calon ketua umum menjadi pembahasan a lot dalam kongres. Setelah syarat harus telah menjadi pengurus minimal selama satu tahun dibahas sehari sebelumnya, kemudian persyaratan pendidikan minimal S1 berlangsung a lot sehingga harus divoting.

Anggota panitia pengarah, Irzan Tandjung, secara berapi-api sempat menolak syarat S1 itu. "Orang cerdas tidak ada hubungannya dengan titel. Banyak pemimpin yang lahir tidak berpendidikan tinggi. Mereka itu kita hormati karena wisdomnya. Apalagi UU Pemilu Presiden hanya mensyaratkan calon presiden lulus SLTA," ujar guru besar ekonomi itu.

Hujan interupsi beralngsung, hingga pimpinan sidang, Marcus, menawarkan apakah akan melaksanakan voting atau tidak. Akhirnya disepakati divoting dengan dua pilihan calon ketua umum harus lulusan S1 atau SLTA/SMA/ SMU. Dari total jumlah suara dalam voting itu 467 suara, dengan rincian satu suara DPP, 32 suara DPD, dan 434 suara DPC, hanya 447 suara yang mengikuti voting. Hasilnya sebanyak 246 suara memilih S1 dan 196 suara memilih SLTA. Empat suara tidak sah dan satu suara abstain.

Persyaratan yang kemudian disahkannya sebagai syarat ke-10 dalam Pasal 27 peraturan tata tertib kongres yang menyebutkan seorang calon ketua umum PD minimal harus S1, telah membuat Sys NS dan Soekartono Hadiwarsito tersingkir dari bursa calon ketua umum. Sehingga calon tinggal sembilan orang. Lalu mendadak Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi mengundurkan diri. Tinggal delapan nama yang mengikuti pencalonan.


Biodata Lengkap Hadi Utomo

Nama:Hadi Utomo
Lahir:Semarang,15 Agustus 1945
Agama:Islam
Isteri:Mastuti Rahayu (Putri Sarwo Edhi Wibowo)

Jabatan
- Ketua Umum DPP Partai Demokrat periode 2005-2010
- Anggota DPR/MPR 2004-2009

Pendidikan:
- Akabri 1970
- Sekolah Tinggi Hukum Militer (1998)
- S2 (Magister Manajemen) STIE Widya Jayakarta (2001)

Pangkat Terakhir:
Kolonel Infanteri AD

Karir:
- Kepala Trantib (Ketenteraman, Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat) DKI Jakarta

Organisasi:
- Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat (2001-2005)
- Ketua Umum DPP Partai Demokrat (2005-2010)

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/hadi-utomo/index.shtml

Biografi Bapak Habibie - Biografi Presiden

Posted by Biografi | Profil | Biodata 1 comments
Biografi Bapak B.J Habibie - Biografi Presiden

B.J. Habibie, lelaki kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 . Dia penuh kontroversi dan merupakan sosok manusia paling multidimensional di Indonesia. Begitu banyak kawan-kawannya dan nyaris segitu banyak pula orang yang tak setuju dengan sepakterjang tokoh industri pesawat terbang kelas dunia yang memperoleh berbagai penghargaan, salah satunya paling berkelas adalah Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences) pada pertemuan tahunan dan konggres ke-18 ICAs yang diselenggarakan di Beijing, China tahun 1992 dari Pemerintah China.

Ketika dia mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan didaulat menjadi Ketua Umum, misalnya, sebagai antitesa berdiri pula Forum Demokrasi (Fordem) pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang populis dan egaliter serta inklusif. ICMI, yang dalam perjalanan selanjutnya praktis menjadi kekuatan politik Habibie, oleh Gus Dur dituding sebagai sektarian karena itu kurang bagus untuk masa depan sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia.

Ketika pada 10 Agustus 1995 dia berhasil menerbangkan pesawat terbang N-250 “Gatotkoco” kelas commuter asli buatan dan desain putra-putra terbaik bangsa yang bergabung dalam PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN, kini menjadi PT Dirgantara Indonesia), dia diserang pelaku ekonomi lain bahwa yang dibutuhkan rakyat Indonesia adalah beras bukan “mainan” pesawat terbang.

Pemikiran ekonomi makro Habibie yang terkenal dengan Habibienomics, dihadirkan oleh lingkarannya sebagai counter pemikiran lain seperti Widjojonomics (yang sesungguhnya merupakan Soehartonomic). Ketika Habibie berhasil melakukan imbal-beli pesawat terbang “Tetuko” CN-235 dengan beras ketan itam Thailand, dia diledekin, pesawat terbangnya hanya sekelas ketan itam.

Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor Timur, satu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah payah oleh rezim Soeharto. Siapapun dia orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Timor Timur, sehingga ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka) unggul mutlak.

Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor-Timur (Tim-Tim), asatu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah-payah oleh Rezim Soeharto. Siapaun dia orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Tim-Tim. Sehingga ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka) unggulk merdeka.

Masalah Tim-Tim, salah-satu yang dianggap menjadi penyebab penolakan pidato pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Umum MPR RI hasil Pemilu 1999. Pemilu terbaik paling demokratis setelah Pemilu tahun 1955. penolakan ini membuat BJ, Habibie tidak bersedia maju sebagai kandidat calon presiden (Capres).

Kjetika Habibie menjabat presiden hampir tidak ada hari tanpa demontrasi. Demontrasi itu mendesak Habibie merepon tuntutan reformasi dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kebebasan pers, kebebasan berpolitik, kebebasan rekrutmen politik, kebebasan berserikat dan mendirikan partai politik, mebebasan berusaha, dan berbagai kebebasan lainnya. Namun kendati Habibie merespon tuntutan reformasi itu, tetap saja pemerintahannya dianggap merupakan kelanjutan Orde Baru . Pemerintahannya yang berusia 518 hari hanya dianggap sebagai pemerintahan transisi.

Keinginan Habibi mengakselerasi pembangunan sesungguhnya sudah dimulainya di Industri pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dengan menjalankan program evolusi empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat “berawal dari akhir dan berakhir diawal.”

Empat tahapan alih tehnologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi ituh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya adalah NC 212 lisensi dari CASA Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat terbang secara bersama- sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235 berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama antara aqual antara IPTN dengan Casa Spanyol.

Ketiga, mengintegrasikan seluruh tehnologi dan sistem konstruksi pesawat terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama sekali didesain baru, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas 50-60 pemumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire.

Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal, yang diproyeksikan bernama N 2130 berkapasitas 130 penumpang dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar 2 milyar dolar AS.

Empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat didefinisikan “bermula dari akhir dan berakhir di awal,” memang sukar dipahami pikiran awam. Habibie dianggap hanyut dengan angan-angan teknologinya yang tidak memenuhi kebutuhan dasar tehnologi Indonesia, yang ternyata nenbuat sepeda saja secara utuh belum sampai.

Pemerintah orde baru sangat memanjakan program empat tahapan alih tehnologi Habibie dengan menempatkan berbagai proyeknya sebagai industri strategis yang menyedot banyak dana. Satu diantaranya, yang paling spetakuler, adalah IPTN, yang memerlukan subsidi.

Ketika masa reformasi, IMF mencantumkan dalam LOI (Letter Of Intent), bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh lagi memberikan subsidi kepada IPTN, (Perusahaan ini kemudian menjadi IPTD). Otomatis perusahaan yang sudah menyusun program produksi baru, terpaksa merumahkan dan mem-PHK- 6000 karyawannya.

Lalu, dalam kesempatan deklarasi pendirian Masyarakat Ilmuwan dan Tehnologi Indonesia (MITI), Habibie menyebut hancurnya IPTN adalah ulah IMF yang menghambat Pemerintah RI membantu pengembangan pesawat terbang dengan mencantumkan klausal pencabutan subsidi dalam Letter Of Intent.


Biodata Lengkap Bapak Habibie:

Nama:Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir:Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama:Islam

Jabatan :
Presiden RI Ketiga (1998-1999)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The Habibie Center

Istri: dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)

Anak:
Ilham Akbar dan Thareq Kemal

Cucu:
Empat orang

Ayah:Alwi Abdul Jalil Habibie

Ibu:
R.A. Tuti Marini Puspowardoyo

Jumlah Saudara:
Anak Keempat dari Delapan Bersaudara

Pendidikan :
1. ITB Bandung, tahun 1954
2. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).
3. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman, dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude, pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1960-1965).
4. Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.

Pekerjaan :
1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.
2. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973
3. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen tahun 1973-1978
4. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
5. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
6. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
7. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
8. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
9. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.

Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI

Penghargaan:
Theodore van Karman Award


Sumber::
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/habibie-bj/biografi/index.shtml

Biografi Fadel Muhammad

Posted by Biografi | Profil | Biodata Monday, 1 March 2010 0 comments
Biografi Fadel Muhammad - Biografi Menteri Indonesia Bersatu Jilid II

Ir H Fadel Muhammad, seorang pengusaha dan politisi kelahiran Ternate, 20 Mei 1952 bertepatan hari kebangkitan nasional. Dia anak sulung dari orangtuanya, yang pedagang antarpulau dan guru. Nama Fadel diberikan oleh kakeknya yang melihat dari mata batinnya, bahwa cucunya itu kelak akan lebih baik dan berbeda dengan teman-temannya. Sejak kecil memang perbedaan itu tampak dari perilaku kesehariannya yang bersahaja dan selalu patuh pada orangtua.

Dia menikmati masa remaja idi Gorontalo dan Ternate. Setelah tamat SMA di Ternate, Fadel melanjut ke ITB. Ketika itu kakeknya berpesan, agar Fadel bisa jadi pelaku sejarah dan bukan hanya pembaca sejarah. Semasa kuliah di ITB, dia pun meraih prestasi gemilang. Tahun 1975 dia mendapat penghargaan sebagai mahasiswa teladan. Kemudian mendapat beasiswa dari Caltex dan grant dari Mitsubishi. Fadel mendapatkan tawaran beasiswa untuk belajar di Institut Teknologi California, namun tawaran tersebut ditolaknya.

Jiwa wiraswastanya sudah mulai tampak sewaktu dia masih mahasiswa. Saat itu, antara lain, dia mengubah pola bisnis koperasi mahasiswa, sepenuhnya dikelola mahasiswa. Dia mengkapitalisasi brand ITB untuk memajukan bisnis koperasi itu.

Setelah meraih gelar insinyur tahun 1978, Fadel memilih jadi pengusaha. Dia mendirikan PT Bukaka Teknik Utama. Usahanya berkembang. Kemudian dia juga menjadi eksekutif dan sekaligus pemilik di sejumlah perusahaan nasional dan joint venture dengan perusahaan asing berskala dunia.

Mantan Bendahara DPP Golkar ini terpilih menjadi Gubernur Provinsi Gorontalo dan memimpin daerah ini sejak 10 Desember 2001. Periode pertamanya berakhir 10 Desember 2006 dan dia terpilih kembali melalui Pilkada langsung oleh rakyat dengan suara yang sangat signifikan 80% lebih (tertinggi dari seluruh Pilkada Gubernur). Selain menjabat Gubenrhur Gorontalo, dia juga menjabat Ketua DPD I Golkar di Gorontalo.

Sebagai gubernur, visinya jelas, membangun Gorontalo dari ketertinggalannya agar mandiri. Berbudaya. Bersandar pada moralitas agama. Fadel bertekad mengakselerasi pembangunan Gorontalo sebagai provinsi baru (dimekarkan dari Provinsi Sulawesi Utara pada 2001) untuk mengejar ketertinggalan wilayahnya dari propinsi-propinsi lain.

Menurut Fadel, menjadi gubernur adalah untuk melayani masyarakat dan menjadikan masyarakatnya mandiri. Untuk mewujudkan hal itu dia melakukan banyak acara dan kegiatan.

Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) 1978, juga salah seorang pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Setelah menjabat Gubernur Gorontalo, yang fokus mengembangkan pertanian jagung, Fadel dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Dewan Jagung Nasional.

Fadel pun bisa mewujudkan pesan sang kakek. Sebagai mahasiswa, pengusaha, politisi dan  gubernur di daerah asalnya, Fadel sudah mewujudkan pesan kakeknya. Dia memang sudah jadi pelaku sejarah. Dialah yang membawa Gorontalo mengejar ketinggalan.

Salah satu tindakan bersejarah dari kebijakan Fadel adalah pembenahan bandara Limboto. Ketika menerima 500 calon jamaah haji dari Gorontalo, Fadel memaparkan bahwa calon jamaah haji itu tidak perlu lagi harus menempuh jalan darat ke Manado. Sehingga para calon jemaah haji bisa terbang menggunakan pesawat dari Limboto menuju Tanah Suci.

Menjelang tutup tahun 2006 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada para tokoh, pejabat dan masyarakat umum yang dianggap berprestasi dalam berbagai hal. Salah satunya adalah Citra Pelayanan Prima yang dianugerahkan kepada Fadel.

Biodata Lengkap Fadel Muhammad

Nama:Ir H Fadel Muhammad
Lahir:Ternate, 20 Mei 1952
Agama:Islam
Jabatan Teralkhir: Mantan Menteri Kelautan
Isteri:Hana Hasanah
Anak:
Fikri, Faiz, Fauzan
Saudara:
Jehan Nabila, Tania

Pendidikan:
• Fakultas Teknik Industri, Departemen Teknik Fisika ITB, (1972 - 1978)
• Kandidat Doktor program studi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Gadjah Mada (2005)

Karir:
• Pengusaha
• Politisi (Partai Golkar)
• Gubernur Gorontalo

Karir Pengusaha:
- Presiden Komisaris/Chairman dari beberapa perusahaan berskala dunia yang dikembangkan sejak awal bersama dengan:
a. PT ARCO CHEMICAL INDONESIA / PT LYONDELL INDONESIA /PT BAYER URETHANES INDONESIA (1987-2004)
(Group ARCO/LYONDELL/BAYER Germany - bidang Petrochemical Industries)
b. PT DOWELL ANADRILL SCHLUMBERGER INDONESIA (1985 -2004) (Group SCHLUMBERGER Perancis, U.S.A, - bidang Oil & Gas Services)
c. PT GEMA BAKER NUSANTARA / PT DWI SENTANA PRIMA (1983-2003) (Group BAKER TOOLS U.S.A - bidang Oil & Gas Services)
d. PT GEMA SEMBROWN / PT SEMBAWANG MARITIME OILFIELD ENGINEERING Indonesia (Joint Venture dengan Group SEMBAWANG Singapore dan Group BROWN & ROOT U.S.A - Bidang Steel Fabricator on Oil & Gas Industry) sejak 1988
e. PT NESIC BUKAKA (Group NEC Japan - bidang telekomunikasi) sejak 1993
- Komisaris Utama INTAN Group (1995-2004), bidang Asuransi dan Keuangan
- Komisaris Utama WARTA Group (1989 - sekarang), bidang Publishing
- Komisaris Utama SIERAD Group (1994 - 1999), bidang Food Industry
- Presiden Direktur BUKAKA Group (1987- 1997), bidang Heavy Industry
- Komisaris Utama BATAVINDO Group (1995 - 2000), bidang Petrochemical

Karir Pemerintahan:
- Gubernur Provinsi Gorontalo (periode 2001 - 2005)
- Ketua Dewan Pembina Badan Kerjasama Pembangunan Regional se-Sulawesi/BKPRS (periode 2003 - 2005)
- Wakil Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia
(periode 2003 - 2007)
- Ketua Dewan Jagung Indonesia (periode 2004)

Legislatif:
- Anggota MPR-RI, Utusan Daerah Periode 1999-2004
Utusan Golongan Periode 1992-1997
Ketua Komisi D, FKP,MPR RI (Sidang Umum 1998)
Anggota Badan Pekerja (1992-1993)

Organisasi Usaha/Profesi:
- Anggota Dewan Pertimbangan KADIN INDONESIA sejak 2003
- Anggota Dewan Pengurus Harian KADIN INDONESIA:
* Ketua Bidang Industri Logam, Mesin, Kimia dan Agroindustri
Periode 1999 - 2003
* Ketua Bidang Industri Periode 1994 - 1999
* Ketua Kompartemen Industri Mesin dan Logam Dasar Periode 1989 - 1994
- Anggota PII (Persatuan Insinyur Indonesia)
- Anggota CEO (Chief Executive Organization)
- Anggota PATI (Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia)
- Anggota ASME (The American Society of Mechanical Engineers)

Organisasi Politik:
- Bendahara Umum DPP PARTAI GOLKAR Periode 1999 - 2004
- Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP GOLKAR
Periode 1993 - 1998
- Ketua DPP Majelis Dakwah Islamiyah Bidang Kepemudaan
Periode 1989 - 1994

Lain-Lain:
- Dewan Kurator Universitas Al-Khairaat dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Khairaat, Palu
- Anggota Dewan Kehormatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)
- Anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Periode 1996-2001
- Ketua Departemen Pembinaan Ekonomi Lemah dan Kemasyarakatan (ICMI) Periode 1990-1995
- Nara Sumber Dewan Keamanan Nasional dalam penyusunan bahan-bahan untuk GBHN Periode 1993-1998
- Ketua Harian Tim Asistensi Pengembangan Indonesia Bagian Timur – KADIN Periode 1993-1997
- Bendahara Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB)
Periode 1987 - 1992
- Sekretaris Jenderal Indonesia Shipowner Association (INSA)
Periode 1986 - 1988


Pengalaman Dalam Kegiatan Internasional:

- Vice President ASEAN Business Forum
- Anggota Chapter Committee Forum Internasional Young President Organization (YPO)
- Ketua Working Group on Industrial Cooperation ASEAN Chambers of Commerce and Industry (WGIC ASEAN CCI)
- Ketua Working Group on Industrial Cooperation of Conferedreation of Asia-Pacific Chambers of Commerce and Industry (WGIC - CACCI)
- Ketua Penyelenggara Industrialists Roundtable ASEAN-European Union, Jakarta, 1997
- Ketua Pelaksana Dialog Industri Barang Modal Timur-Tengah, Jakarta, 1989

Alamat Kantor:
Gubernur Provinsi Gorontalo
Jalan Sapta Marga Kel. Botu, Kota Timur, Kota Gorontalo, Telp. +62-0453-821277 Fax. 0435-828281

Alamat Rumah Jakarta:
Jalan Suwiryo, Menteng, Jakarta Pusat

Referensi: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/fadel-muhammad/index.shtml

Biografi Fahmi Idris

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Fahmi Idris

Pria kelahiran Gang Kenari, Jakarta Pusat, 20 September 1943, ini sempat dipecat dari keanggotaan dan kepengurusan DPP Partai Golkar, akibat aktivitasnya mendukung SBY-JK menjelang Pilpres putaran kedua. Dia memprakarsai Forum Pembaharuan Partai Golkar dan menentang Koalisi Kebangsaan (hasil Rapim Partai Golkar) yang mendukung Mega-Hasyim.


Namun setelah pasangan SBY-JK terpilih jadi Presiden dan Wakil Presiden, Fahmi diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kemudian setelah Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar, keanggotaannya di Golkar dipulihkan dan diangkat jadi Anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar.


Mantan Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII ini di kala kecil dikenal bengal -- senang menantang teman-temannya berkelahi. Kala itu dia bercita-cita menjadi tentara. Pengagum Jenderal De Gaulle itu sangat tertarik melihat kegagahan dan sikap heroik tentara. Cita-cita itu tidak tercapai. Dia malah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tapi tidak rampung. Namun sikap heroiknya terasa tersalurkan ketika dia turut ambil bagian menggusur Orde Lama, 1966.

Mantan Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966), ini tidak merampungkan kuliah ekonominya di Universitas Indonesia untuk merintis usaha. Bakat wiraswastanya menurun dari ayahandanya Haji Idris gelar Marah Bagindo, seorang pedagang. Walaupun kemudian dia melanjutkan studinya ke Fakultas Ekonomi Extension UI dan pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973).

Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968), ini memulai berusaha bersama rekan-rekan eksponen 66. Mereka mendirikan PT Kwarta Daya Pratama, 1969. Kemudian aktif dalam 10 perusahaan. Di antaranya, PT Kodel (Kelompok Delapan), bersama Soegeng Sarjadi, Ponco Nugro Sutowo, Jan Darmadi, dan Aburizal Bakrie, bergerak di bidang perdagangan, industri dan investasi. menantu KH Hasan Basri, ini juga menjadi direktur di PT Krama Yudha, baik perusahaan patungan mobil dengan Jepang maupun divisi kawat las yang bekerja sama dengan Philips dari Negeri Belanda.

Perusahaan lainnya adalah PT Parama Bina Tani, PT Delta Santana, PT Wahana Muda Indonesia, PT Dharma Muda Pratama, PT Ujung Lima, dan CV Pasti. Perusahaan-perusahaan tersebut membidangi usaha agrokimia, perlengkapan industri minyak dan gas bumi, konstruksi dan rekayasa untuk pabrik metanol di Bunyu, pergudangan dan muatan, dan transpor.

Kemudian suami dari Kartini Hasan Basri, psikolog di RS Cipto Mangunkusumo, ini berkiprah dalam politik praktis. Pada 3 Maret 1984, bersama sejumlah eksponen 66, bekas tokoh HMI ini meneken pernyataan masuk Golkar, langsung di hadapan ketua umumnya, Sudharmono. Dia memilih Golkar, karena dia melihat adanya aspek kemanusiaan yang menampung semua persamaan pikiran dan hobi di Golkar.

Biodata Lengkap Fahmi Idris

Nama :Fahmi Idris
Lahir :Jakarta, 20 September 1943
Agama :Islam
Isteri:Kartini Hasan Basri

Pendidikan :
-SD, Jakarta (1956)
-SLP, Jakarta (1959)
-SLA, Jakarta (1962)
-Fakultas Ekonomi UI, Jakarta (1962 tidak selesai)
-Melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Extension UI
-Pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973)
-LPPM, Jakarta dan Lembaga Managemen FE UI

Karir :
-Direktur CV Pasti (1967-1968)
-Direktur PT Ujung Lima (1968-1969)
-Presiden PT Kwarta Daya Pratama (sejak 1969)
-Manajer Utama PT Krama Yudha (1973-1976)
-Direktur PT Krama Yudha (sejak 1976)
-Wakil Presiden PT Parama Bina Tani (sejak 1980)
-Direktur PT Dharma Muda Pratama (sejak 1981)
-Wakil Ketua PT Wahana Muda Indonesia (sejak 1983)
-Ketua PT Delta Santana (sejak 1984)
-Presiden PT Kodel (sejak 1979)
-Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII

Kegiatan lain:
-Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966)
-Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968)
-Anggota DPRGR (1966-1968)


Alamat Rumah :
Jalan Duren Tiga VII No. 4, Jakarta Selatan

Referensi: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/fahmi-idris/index.shtml

Biografi Goenawan Susatyo Mohamad - Sastrawan

Posted by Biografi | Profil | Biodata Friday, 26 February 2010 0 comments
Biografi Goenawan Susatyo Mohamad

Goenawan Susatyo Mohamad merupakan seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom "Catatan Pinggir" di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini  pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair.  Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.



Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. "Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang," tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

Biodata Lengkap Goenawan Susatyo Mohamad

Nama:Goenawan Susatyo Mohamad
Lahir:Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941
Agama:Islam

Istri:
Widarti Djajadisastra

Anak:
2 orang

Pendidikan:
- SR Negeri Parakan Batang, (1953)
- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
- SMA Negeri Pekalongan, (1959)
- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)

Karya Tulis:
- Parikesit, (kumpulan puisi, 1973)
- Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (esei), (Pustaka Jaya, 1974)
- Interlude, (puisi, 1976)
- Sex, Sastra, Kita (esei), (Sinar Kasih 1980)
- Catatan Pinggir, (Grafitipers, 1982)

Penghargaan:
- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists), (1998)
- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)
- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)
- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)

Organisasi dan Karir:
- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)
- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)
- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)
- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)
- Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang)

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/g/goenawan-mohamad/index.shtml

Biografi Lionel Messi - Pemain Sepak Bola

Posted by Biografi | Profil | Biodata Wednesday, 24 February 2010 0 comments
Biografi Lionel Messi - Pemain Sepak Bola

Lionel Andrés Messi atau yang akrab dipanggil Lionel Messi, lahir di Rosario, pada tanggal 24 Juni 1987. Dia adalah seorang pemain sepak bola terbaik  yang berasal dari Negara  Argentina . Saat ini Messi memperkuat FC Barcelona di La Liga (Liga Spanyol). Kemampuannya sering membuatnya dijuluki sebagai “Diego Maradona baru”.

Pada awalnya pemain bertinggi badan 169 cm ini beraksi di klub Grandoli, klub asuhan Jorge Messi yang tak lain adalah ayahnya Messi. Kemudian ia beralih ke Newell’s Old Boys. Namun klub ini tidak sanggup membayar biaya terapi hormon yang mencapai 500.000 pounds perbulannya. Untunglah Barcelona segera menangkap potensi hebat Leo Messi dan menawarinya pindah ke Spanyol untuk bergabung bersama klub Katalan ini plus membiayai seluruh biaya terapi.

Bakatnya menarik perhatian dunia sewaktu beraksi bersama tim nasional sepak bola Argentina di Piala Dunia Remaja dan Barcelona pada tahun 2005. Pada tahun 2006 dia berhasil membantu Barcelona sebelum mengalami cedera dalam perlawanan perempatfinal menentang Chelsea di Liga Champions. Messi yang mempunyai tubuh yang agak kecil ini sangat lincah di atas lapangan dan kerap membuka ruang kepada rekan-rekannya yang memburu gol.

Sumber: http://strodong.co.cc/biografi/biografi-lionel-messi/

Biografi Ladya Cheryl - Artis

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Ladya Cheryl
Nama Lengkap: Ladya Cheryl Baharrizki
Jenis Kelamin: Perempuan
Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 11 April 1981


Ladya Cheryl
Baharrizki Biasa dipanggil  dengan nama Ladya Cherryl lahir pada tanggal 11 April 1981 di Jakarta. Dia merupakan salah satu aktris Indonesia, anak kedua dari empat bersaudara yang lahir dari pasangan Jussuf Baharrizki dan Julie Vita Virgo.

Nama wanita setinggi 157 cm ini yaitu Ladya adalah pemberian dari neneknya yang menggemari Lady Diana. Film yang pernah dibintanginya di antaranya film sukses anak muda, ADA APA DENGAN CINTA.

Referensi: http://selebriti.kapanlagi.com/ladya_cherryl/

Biografi Ellyas Pical - Petinju Indonesia Pertama Meraih Gelar Juara Dunia

Posted by Biografi | Profil | Biodata Tuesday, 23 February 2010 0 comments
Biografi dan Biodata Ellyas Pical

Elly sudah gemar olahraga tinju sejak kecil. Elly yang pada masa kecil sering menghabiskan waktu sebagai pencari mutiara alami dengan menyelam sampai ke dasar laut hingga berakibat pendengarannya kurang peka, itu sangat senang menonton pertandingan-pertandingan tinju di TVRI, terutama pertandingan Muhammad Ali kala itu.

Pada usia 13 tahun, ia sudah ikut berlatih secara sembunyi-sembunyi karena dilarang oleh kedua orangtuanya. Ia pun memulai karirnya sebagai petinju amatir di kelas terbang. Ia pun beberapa kali menjadi juara mulai dari tingkat kabupaten hingga kejuaraan Piala Presiden.


Karir profesionalnya dimulai tahun 1983 dalam kelas bantam junior. Elly pun meraih juara OPBF setelah mengalahkan Hi-yung Chung asal Korea Selatan dengan kemenangan angka pada 19 Mei 1984 di Seoul, Korea Selatan. Atas kemenangan ini, Elly menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar internasional di luar negeri. Kemudian, Elly berkesempatan menantang juara IBF kelas bantam yunior (atau kelas super terbang) dari petinju Korea Chun Ju-do. Pertandingan itu diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 3 Mei 1985 yang berhasil dimenangkan Ellyas Pical.

Ellyas Pical adalah petinju Indonesia pertama meraih gelar juara dunia tinju profesional. Petinju kelahiran Saparua, Ambon, 24 Maret 1960, ini merebut gelar juara IBF kelas bantam yunior (kelas super terbang) dari petinju Korea Chun Ju-do di Jakarta pada 3 Mei 1985. Rekor karir profesionalnya, adalah 20 kemenangan (11 KO), 1 seri dan 5 kekalahan.


Elly memiliki pukulan hook dan uppercut kiri yang terkenal cepat dan keras. Sehingga pukulannya dijuluki oleh pers sebagai "The Exocet", merujuk pada nama rudal milik Perancis yang digunakan oleh Inggris dalam Perang Malvinas saat itu.


Kemudian, Elly mempertahankan gelar melawan petinju Australia, Wayne Mulholland, 25 Agustus 1985. Lalu dikalahkan petinju Republik Dominika, Cesar Polanco dengan angka di Jakarta. Kekalahan ini memacu Elly lebih giat berlatih sehingga ia bangkit dan membalas kekalahannya dengan memukul KO Cesar Polanco pada pertandingan kedua di Jakarta, 5 Juli 1986.

Setelah itu, Elly mempertahankan gelar melawan petinju Korea Selatan, Dong-chun Lee. Namun, ia dikalahkan petinju Thailand, Khaosai Galaxy dengan KO pada ronde 14, pada tahun 1987. Elly sempat merasa terpukul akibat kekalahannya. Namun setelah beberapa bulan, semangatnya bangkit kembali dan mampu merebut kembali gelar IBF kelas bantam yunior dari sang juara bertahan Tae-ill Chang, dari Korea Selatan.


Setelah dua tahun mempertahankan gelar tersebut, Elly harus melepas gelar juara itu setelah dikalahkan Juan Polo Perez dari Kolombia, pada 4 Oktober 1989 di Ronoake, Virginia, AS. Setelah kekalahan dari Perez, Elly masih sempat bertanding non gelar sebanyak 3 kali, namun prestasinya sudah semakin menurun. Sejak itu, namanya tidak lagi berrkibar di dunia tinju.


Belakangan suami dari Rina Siahaya Pical, dan ayah dari dua orang putra (Lorinly dan Matthew) yang tidak sempat lulus SD ini bekerja sebagai petugas keamanan (satpam) di sebuah diskotik di Jakarta. Hal ini terpublikasi, setelah ia ditangkap polisi pada 13 Juli 2005 karena melakukan transaksi narkoba di sebuah diskotik. Penangkapannya cukup mengundang keprihatinan dari berbagai pihak dengan menyoroti tiadanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah kepada atlet yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara.


Elly divonis hukuman penjara selama 7 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Setelah bebas dari penjara, Elly sempat ditampung bekerja di KONI pusat, sebagai asisten ketua KONI kala itu, Agum Gumelar. Kini ia dan keluarganya tinggal di perumahan Duta Bintaro, Kabupaten Tangerang.


Biodata:
Nama:Ellyas Pical
Lahir:Saparua, Ambon, 24 Maret 1960

Isteri:
Rina Siahaya

Anak:
- Lorinly
- Matthew

Pendidikan:
Tidak Tamat SD

Prestasi:
- Juara IBF Kelas Bantam Yunior 1985, 1986, 1987

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/e/ellyas-pical/index.shtml

Biografi Erros Djarot

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi dan Biodata Erros Djarot

Walaupun kini telah menjadi orang partai, namun kadang-kadang ia merasa malu dengan predikat politisi itu. “Saya kadang-kadang ngga suka dengan partai, dalam pengertian yang hari ini. Saya dipanggil politisi, aduh itu rasanya rendah sekali ya, lebih bagus disebut budayawan, itu saya bisa bangga. Karena politisi kelakuannya rusak, siapa yang tidak malu jadi politisi? Tetapi ini tugas yang harus saya jalankan,” katanya.

Lalu ia bertekad harus mengubah itu. Bagaimana caranya? Antara lain, ketika seorang politisi mendapat tugas dari negara, ia harus berubah dari seorang politisi menjadi seorang negarawan. Jangan lembaga kenegaraan direduksi oleh orang-orang politik dengan sikap sempit dan membangun oligargi partai, itu berbahaya.

Jika suatu hari nanti, misalnya, semua orang memilih PNBK dan Erros harus menjadi Presiden Indonesia, ia hanya akan menjalaninya sekali saja. Setelah pensiun akan membuat film lagi, membuat musik, dan menggelar konser. Sehingga ada perasaan yang menyenangkan yaitu menjadi berguna bagi orang lain.

Memasuki dunia politik ternyata tidak berarti Erros meninggalkan yang lain, seperti kegiatan kebudayaan. Baginya, aspek kesenian dan kebudayaan sangat membantu dalam memahami makna kehidupan. Kegiatannya sebagai seniman dan budayawan masih terus berjalan, masih mengarang lagu, menulis cerpen, menulis skenario, walaupun hanya untuk dinikmati sendiri. Semua kegiatan kebudayaan itu membuatnya tidak pernah merasa sepi. Sampai-sampai waktu seminggu itu kurang baginya.

Baginya kebudayaanlah yang membuat seorang manusia lebih mengenali dirinya, mengenal apa yang di luar dirinya, dan untuk semakin memperkuat jati diri. Ia akan terus melakukan ini sampai mati, karena itu ia merasakan kebudayaan sebagai anugerah yang luar bisa dari Tuhan.

Selain sibuk di partai, Erros merupakan orang yang suka bergaul dengan berbagai kalangan termasuk LSM. Ia juga suka merancang bisnis, tetapi mengaku tidak bisa menjadi direktur utama. Jabatan yang rasanya lebih pas adalah komisaris. Sebab, ia melihat dirinya itu tidak berbakat karena tidak bisa menipu. Padahal, menurut pengamatannya, seorang bisnisman harus bisa menjilat pejabat, bisa berbohong, bisa membohongi pajak dan menutupi banyak hal. Banyak temannya yang datang meminta konsultasi bisnis, ya diberikan tanpa biaya dan tarif. Hikmahnya adalah sekarang bisa buat partai.

Ia juga banyak melakukan kegiatan sosial seperti berkunjung ke pesantren. Pengalaman yang menarik adalah ketika bertemu para Kiai dan mengobrol. Tiba-tiba kiai itu memintanya menjadi sesepuh pesantren di Cirebon, padahal ia tidak mengerti banyak tentang dunia pesantren. Di samping itu, ia juga tidak memberi sumbangan uang kepada pesantren tersebut. Namun, karena kiai itu senang dengan karya-karya tulisannya, maka hubungan mereka pun menjadi dekat.

Kegiatan lain yang masih dilakukan adalah menjalin komunikasi dengan rekan-rekan perfilman nasional.

Erros juga mengaku masih memiliki banyak impian yang belum tercapai. Terlalu banyak yang belum dicapai dalam merampungkan mimpi-mimpinya. Ia juga menganggap jabatan yang disandangnya saat ini hanya sementara.

“Bagi saya tidak pentinglah jabatan-jabatan ini semua. Pada saatnya ketika sebelum mati, saya tidak mau membayangkan dosa-dosa saya kepada rakyat. Kalau saya mati, saya telah mengerjakan pekerjaan saya yang belum selesai. Saya tak mau meninggalkan hutang, apalagi hutang kepada rakyat. Kalau saya dipanggil saya mau istirahat dengan damai. Tetapi selama saya hidup saya akan bekerja,” urainya.

Nama : Erros Djarot

Lahir:Rangkasbitung, Banten, 22 Juli 1950

Agama:Islam

Jabatan:Ketua Umum DPP PNBK (Partai Nasional Banteng Kemerdekaan)


Pendidikan:
  • Sekolah Teknik Tinggi KOln, Jerman (Tahun 1970)
  • Sekolah Perfilman, Inggris

Profesi:
Budayawan dan Politisi

Prestasi:
  • Pemenang “bronze Medal” mewakili Inggris Raya dalam Lomba Photo Internasional Competition, Nikkon, 1978;
  • Nominator Mike Burke's Award, BBC documentary Competition, 1979.
  • Pencita lagu “Badai Pasti Berlalu"
  • Sutradara Film “Cut Nyak Dhien
  • Karir Bidang Perss:
  • Pendiri Tabloid politik 'Detik' (dibredel Rezim Soeharto 21 Juni 1994),

Organisasi :
  • Kader “barisan Banteng" sebagai fungsionaris Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Yogyakarta,
  • Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI),
  • Pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras)
  • Anggota Dewan Etik Indonesian Corruption Watch (ICW)
  • Pendiri LITBANG Partai Demokrasi Indonesia (PDI) ( tahun 1983)
  • Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
  • Pendiri dan Ketua Umum Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK) (25 Juli 2002)
  • Pendiri dan Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK)

Alamat Kantor:
Jl. Penjernihan I/50
Telp; 5739550-51

Sumber:http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/e/erros-djarot/index.shtml

Biografi Bagir Manan - Biografi Ketua MA

Posted by Biografi | Profil | Biodata Monday, 22 February 2010 0 comments
Biografi Bagir Manan - Biografi Ketua MA

Setelah melalui proses panjang dan ketat, Guru Besar FH Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung kelahiran Lampung, 6 Oktober 1941, ini diangkat menjabat Ketua Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Kariernya di bidang hukum tergolong panjang. Ia pernah menjabat sebagai Dirjen Hukum dan Perundang-undangan Departemen Kehakiman.


Sebelumnya, ia menjabat Direktur Perundang-undangan Ditjen Hukum dan Perundang-undangan Departemen Kehakiman (1990-1995), serta dosen luar biasa di UI, UGM dan sejumlah perguruan tinggi lain.


Ayah dari tiga anak dan suami dari Dra Hj Komariah ini juga menjabat sebagai Rektor Universitas Islam (Unisba) Bandung. Ia alumnus FH Unpad (1967), Master of Comparative Law Southern Methodist di University Law School Dallas Texas AS (1981), dan doktor ilmu hukum tata negara lulusan Unpad tahun 1990.


Sebelum dipilih menjabat Ketua MA, ia menjabat  Wakil Ketua Komisi Ombudsman Nasional dan mempunyai tujuh lokal tanah yang terletak di Jawa Barat dan Lampung. Tiga lokal yang berada di Jabar masing-masing seluas 400 meter persegi (di Cibeunying Kecamatan Cicadas, Bandung), 690 meter persegi (di Cipadung Kecamatan Cibiru, Bandung), dan 400 meter persegi di kompleks Perumahan Unpad, Jatinangor.


Selain itu ia mempunyai tiga mobil, yaitu sedan merek Toyota Corolla 1.600 cc tahun 1995, sedan merek Mitsubishi Lancer 1.500 cc tahun 1992, dan jeep merek Toyota Land Cruiser Hardtop tahun 1980. Bagir juga pemilik tabungan dan deposito di BNI kantor cabang Unpad senilai Rp 55 juta, serta di Bank HSBC cabang Bandung sebesar Rp 30 juta.

Biodata Diri Bagir Manan:

Nama:Prof Dr Bagir Manan SH MCL
Lahir:Lampung, 6 Oktober 1941
Agama:Islam
Jabatan:Ketua Mahkamah Agung RI
Isteri:Dra Hj Komariah

Anak:
Tiga orang

Pendidikan:
- 1967, Sarjana Hukum Universitas Padjadjaran
- 1981, Master of Comparative Law, Southern Methodist University Law School Dallas, Texas, AS
- 1990, Doktor Hukum Tata Negara, Unpad, Bandung
- 1993, Program Belajar tentang Sistem Pemerintahan, The Academy for Educational Development, Washington, AS
- 1997-1998, Program Belajar Hukum Indonesia, Universitas Leiden, Belanda

Pekerjaan:
- 1968-1971, Anggota DPRD Kodya Bandung
- 1974-1976, Staf Ahli Menteri Kehakiman
- 1990-1995, Direktur Perundang-undangan Departemen Kehakiman
- 1995-1998, Dirjen Hukum dan Perundang-Undangan Departemen Kehakiman
- 2000-kini, Rektor Unisba, Bandung
- 2001-2009, Ketua MA

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bagir-manan/index.shtml

Biografi Bachtiar Chamsyah - Biografi Menteri

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Bachtiar Chamsyah - Biografi Menteri

Namanya mulai makin akrab di lidah publik bak selebriti, saat ia dengan cerdas dan tangkas memimpin Pansus Bulog (2000-2001) yang ketika itu melibatkan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Maka banyak pihak menilai sangat bijak manakala Presiden Megawati mengangkatnya menakhodai kebangkitan Departemen Sosial dari kubur.

Pada era pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Departemen Sosial (Depsos) ‘dikebumikan’ (dilikuidasi) dengan alasan tidak diperlukan, apalagi karena sebelumnya diduga telah menjadi sarang korupsi, kolusi dan nepotisme. Sekitar 2.500 pegawai Depsos berduka serta jutaan orang dibuat heran dan bingung. Dua tahun kemudian (2001), ketika Gus Dur jatuh tersandung kasus Bulog dan digantikan Megawati Sukarnoputri, Depsos dihidupkan kembali. Alasannya, masalah sosial yang dihadapi bangsa ini sangat kompleks dan penangannya belum dapat sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat.

Jutaan pengungsi akibat berbagai konflik sosial harus sgera diatasi. Belum lagi masalah fakir-miskin, anak telantar, yatim-piatu, bencana alam dan lain sebgainya. Siapa yang harus mengurusi itu semua? Lalu siapa figur pemimpin yang bertalenta mengatasi itu?


Presiden Megawati Sukarnoputri memilih H Bachtiar Chamsyah,SE. Seorang politisi yang piawai bernegoisasi dan berdiplomasi untuk meminimalisasi konflik untuk mencapai tujuan atau konsensus. Ia ‘anak Medan’ yang dinilai tangkas dan cerdas (banyak taktik), sehingga diyakini mampu mengatasi masalah pengungsi dan masalah sosial lainnya yang sangat kompleks itu. Lebih lagi, ia dinilai seorang yang akan mampu memperbaiki citra Depsos dari dugaan sarang KKN.

Padahal, lelaki Minang kelahiran Aceh ini tak menduga akan diangkat menjadi menteri, apalagi menjadi Menteri Sosial. Latarbelakang pendidikannya adalah ekonomi. Saat di legislatif (DPR) ia juga tidak membidangi masalah sosial. Ia berada di Komisi V dan VI. Namun, ia tak pernah merasa tidak mampu memimpin departemen ini. Baginya, apapun bidang pekerjaan jika dihayati akan dapat dikerjakan dengan baik.

Dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia di ruang kerjanya, Kamis 19 Juni 2003, Bachtiar Chamsyah mengatakan, sudah terbiasa menghayati setiap pekerjaan yang digumulinya. Kendati ia mengaku sangat banyak masalah yang dihadapinya saat pertama kali masuk kantor sebagai menteri. Namun, katanya, yang namanya memimpin tentu ada persoalan.



“Tetapi kita ‘kan dilatih mencari solusi dengan berpikir sistematis. Itu fungsi bersekolah yaitu memecahkan persoalan dengan kerangka yang sitemastis. Orang banyak berpikir masuk perguruan tinggi hanya untuk menjadi pegawai. Tetapi sesungguhnya hakikat bersekolah itu adalah agar kita dapat memecahkan persoalan secara sistematis,” ujar sarjana ekonomi (akuntansi) dari Universitas Medan Area dan mantan mahasiswa tingkat V Jurusan Akuntansi FE Universitas Nommensen ini, menjelaskan.

Bahkan ia menyatakan merasa berbahagia menghadapi tugas berat yang dipercayakan di pundaknya. Bayangkan waktu awal-awal menjadi menteri, ia harus menghidupkan dan membangun struktur organisasi yang sebelumnya telah bubar. Kemudian harus bisa meyakinkan DPR untuk meningkatkan budget departemen ini. Lalu memperbaiki citra Depsos yang sebelumnya dikenal sebagai sarang korupsi. Menata anggaran sedemikian rupa. Setelah itu menghadapi berbagai persoalan sosial yang makin kompleks dalam tahun-tahun terakhir.

Ia merasa tugas Menteri Sosial itu berat, tetapi mulia. Artinya, itu adalah tugas untuk melaksanakan amanat UUD, kemanusiaan, yang tidak ada profitnya. Kendati tugas ini nonprofit, ia yakin dapat mengembannya dengan mengajak mereka yang berkemampuan dan kalangan LSM untuk menanggu-langinya. Apabila semua potensi di dalam masyarakat diajak, kerja berat it akan menjadi ringan.

Untuk itu, sebagai nakhoda, ia sadar harus menjadi teladan. Mulai dari hal kecil hingga yang terbesar. Mulai dari persoalan jam kerja hingga kecepatan bertindak dan mengambil keputusan. Ia memulai dengan disiplin masuk kantor jam tujuh pagi dan pulang rata-rata jam setengah delapan malam.

Ia pun berhasil membangkitkan semangat hidup semua jajaran Depsos yang dipimpinnya. Ia mengajak jajaran Depsos melakukan introspeksi untuk membangkitkan eksistensi dan citra Depsos baru.

Dua tahun Depsos ‘dikebumikan’ diinspirasikannya menjadi cambuk, semacam pertapaan atau bersemadi, seperti renungan Toynbee dalam A Study of History. Bertapa, bersemadi, diibaratkannya sebagai bibit (biji, tampang) yang ditanam di dalam tanah (mengasingkan diri ke dalam tanah), untuk kemudian tumbuh atau timbul kembali sebagai tanaman baru yang akan berbuah banyak dan berguna.

Toynbee menyebut hal itu “withdrawal and return”, bertapa dan kembali dari pertapaan. Jadi bertapa bukan untuk terus bertapa, karena bertapa terus sama artinya dengan bunuh diri. Melainkan bertapa untuk menerima wahyu, inspirasi, dan menghimpun tenaga baru untuk kemudian kembali ke dalam perjuangan masyarakat, menjadi teladan dan penunjuk jalan baru bagi rakyat. Memberi citra baru eksistensi dan perjalanan perjuangan Depsos, yang demikian strategis dan urgen mengatasi persoalan-persoalan sosial yang amat kompleks.

Saat peraya-an Proklamasi RI ke-56 di Depsos, ia mengatakan pembubaran Depsos di era Gus Dur merupakan renungan bagi kita untuk introspeksi dan memperhatikan kinerja yang berdaya guna dan bertanggung jawab. “Kita ditunggu setumpuk persoalan sosial, yang semakin hari semakin bertambah,” katanya.

Kiprahnya sebagai Menteri Sosial sangat fenomenal dalam membangkitkan kembali Depsos sebagai departemen strategis yang amat diperlukan bangsa ini. Ia berupaya menjadikan Depsos berkemampuan menyelesaikan berbagai masalah sosial, termasuk dampak sosial krisis ekonomi, terutama yang dialami keluarga rentan, anak jalanan dan kaum telantar, guna mengangkat harkat dan martabat sosial-nya, serta dapat mengem-bangkan kesetiakawanan sosial masyarakat.

Ia pun menegaskan tidak akan menjadikan Depsos sebagai pemungut limbah sosial akibat pembangunan yang salah arah. Ia dengan tegas mengatakan bahwa pemberdayaan sosial akan menjadi leading sector Depsos baru. Ia sudah bertekad untuk tidak memosisikan departemen ini hanya sebagai pemadam kebakaran yang hanya mengatasi masalah setelah terjadi dan memungut limbah sosial akibat pembangunan yang salah arah. “Apabila kita mampu mengatasi masalah sosial di hulunya, mudah-mudahan di hilir limbahnya akan berkurang,” ujar menteri yang berasal dari keluarga sederhana ini.

Biodata Bachtiar Chamsyah:

Nama :H. Bachtiar Chamsyah, SE
Lahir :P. Tiji Sigli, 31 Desember 1945
Jabatan :Menteri Sosial RI
Agama :Islam
Istri :Roshidah MS (Guru SMU Negeri 8 Jakarta)

Anak:
Roshi Ika Putri, SE. Ak
Moh. Iqbal, SE. Ak
Rini Irawati (Fak. Teknik Universitas Pancasila, Jakarta)

Pendidikan
SD Negeri Kutacane, lulus 1957
SMP Negeri Medan, lulus 1961
SMA Ngeri Maninjau, Lulus 1964
AAN Negeri Medan 1966 s/d 1970
Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Nommensen, Tingkat V, tidak lulus
Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi pada Universitas Medan Area, lulus 1997

Organisasi
1966. Anggota KAMI Komisariat AAN Negeri Medan
1967. Ketua Komisariat HMI AAN Negeri Medan
1969. Ketua Umum HMI Cabang Medan
1976. Ketua Umum Badko HMI Sumatera Utara
1971. Wakil Ketua Muslimin Indonesia Sumatera Utara
1994. Pjs. Ketua DPW Partai Persatuan Pembanguan Sumatera Utara
1994 – Sekarang. Wakil Sekjen DPP PPP
1999 – 2002 Sekjen Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI)
2002. Ketua Umum PARMUSI

Pekerjaan
1974 – 1981. Pegawai Honorer Pemda Kodya medan
1978 – 1980. Guru (Swasta) Perguruan Amir Hamzah Medan
1982 – 1987. Anggota DPRD Tk. 1 Sumatera Utara
1987 – 1992. Wkl. Pimpinan Umum Mingguan DEMI MASA, Medan
1992 – 1997. Angota DPR RI (Wakil Sekretaris FPPP)
1997 – 1999. Anggota DPR RI (Sekretaris FPPP DPR)
1999 – 2004. Anggota DPR RI
1999 – 2001. Ketua Komisi V DPR RI
2000 Ketua Pansus BULOG GATE
2001 Menteri Sosial RI pada Kabinet Gotong Royong

Riwayat Perjuangan
Aktif dalam penumpasan G.30 S/PKI dan Penegakan Orde Baru:
- Sebagai Ketua KAMI Komisariat AAN Negeri Medan
- Aktifis dan Ketua Komisariat HMI Medan

Tanda Penghargaan
Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi 2000

Alamat Rumah:
Jl. Widya Candra IV No. 18

Alamat Kantor:
Jalan Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat
Telp (021) 3103591


Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bachtiar-chamsyah/index.shtml

Biografi Astrid Sartiasari

Posted by Biografi | Profil | Biodata Sunday, 21 February 2010 1 comments
Biografi Astrid Sartiasari

Nama Lengkap: Astrid Sartiasari

Nama Panggilan: Astrid

Tanggal Lahir: : Surabaya, 27 Januari 1982

Nama Ayah : Drs. HM Ali Basjar

Nama Ibu : Dra. Siti Kustiiyah

Zodiak: Aquarius


Pendidikan Terakhir : SDN. Dr Soetomo VIII Surabaya, SMPN 1 Surabaya, SMUN 2 Surabaya, 
Perguruan Tinggi Sekolah Tinggi Teknik Surabaya

Penyanyi Favorit: Bjork


Astrid Sartiasari adalah seorang penyanyi yang mengawali karir sebagai penyanyi cafe. Astrid yang lahir di Surabaya, 27 Januari 1982 itu, pernah meraih Best Vocal dalam Festival Band SMA se-Surabaya, sebelum kemudian Sony Music tertarik dengan suara khasnya.

Astrid dipercaya untuk membawakan album soundtrack film TUSUK JELANGKUNG (2003), dengan lagu Ratu Cahaya. Kesmpatan kedua juga datang padanya, dengan dipercaya kemabali mengisi soundtrack film VINA BILANG CINTA, dengan lagu Di Dadaku Ada Kamu dan Cinta.

Karir Astrid semakin gemilang, kesempatan pun kembali datang padanya. Astrid mendapatkan tawaran untuk bergabung dalam album kompilasi bertajuk A Portrait of Yovie, di mana dia harus membawakan single karya Yovie Widianto berjudul Tak 100%. Hal itu tak dibiarkan berlalu begitu saja.

Pada akhir 2005 Astrid, kemudian merilis album self-titled, Astrid (2005). Sebagai lagu unggulan album ini, lagu Cinta Itu. Lagu ini kemudian menjadi theme-song film MIRROR bersama lagunya yang lain, Ku Mau Kamu Selamanya, Cahaya Cinta dan Perpisahan.

Pada Februari 2007, Astrid kembali merilis repackage dari debut albumnya, dengan menampilkan hit-single, Jadikan Aku Yang Kedua.


ALBUM
    * Indie Colors (1998, Aku Jiwaku)
    * OST Tusuk Jelangkung (Ratu Cahaya, 2003)
    * Backing Vocal album Padi Save My Soul (Sesuatu Yang Tertunda, 2003)
    * Backing Vocal Album Incolaboration with Iwan Fals (Lagu Sesuatu Yang Tertunda)
    * Album Portrait of Yovie (Tak 100%, Juli 2005)
    * OST. Vina Bilang Cinta (Didadaku Ada Kamu, Cinta, 2005)
    * Astrid (2005)
    * Jadikan Aku Yang Ke-2 (2007)
    * Kedamaian, colaboration with Saint Loco (2007)


Referensi:

http://profilseleb.blogspot.com/2009/06/astrid-sartiasari-profil.html
http://selebriti.kapanlagi.com/astrid_sartiasari/

Biografi Annisa Pohan

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Annisa Pohan

Nama : Annisa Larasati Pohan

Tanggal Lahir : Boston,AmerikA Serikat, 20 November 1981

Zodiak: Scorpio

Tinggi Badan: 164

Hobby: Nonton bola

Nama Ayah: Aulia Pohan

Nama Ibu: Mulyaningsih

Anak ke: 2 dari 3 bersaudara

Nama Suami: Agus Harimurti Yudhoyono

Nama Anak: Admirah Tunggal Dewi Yudhoyono

Film: Notting Hill, The Sixth Sense, Serendipity

Pendidikan Terakhir : SMU 70 Bulungan, Sarjana Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Annisa Larasati Pohan dikenal sebagai aktris dan juga presenter. Perempuan kelahiran Boston, Amerika Serikat, 20 November 1981 itu, pernah menjuarai ajang pemilihan Gadis Shampoo 2001 dan mendapat gelar Gadis Sampul Majalah Gadis 1997.

Dua prestasi tersebut mengantarkannya ke panggung selebriti, khususnya dunia model Indonesia, dengan langsung dikontrak sebagai model iklan. Berikutnya, Annisa merambah dunia broadcasting sebagai penyiar radio OZ Bandung, presenter Bundesliga di RCTI dan presenter Good Morning di TransTV.

Annisa yang juga putri kedua dari mantan Deputi Gubernur BI, Aulia Pohan itu, pada 8 Juli 2005 menikah dengan Agus Harimurti Yudhoyono seorang perwira TNI AD, yang juga putra pertama dari Presiden RI saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Beberapa bulan setelah menikah, Annisa ditinggal suaminya untuk tugas sebagai pasukan PBB ke Afghanistan selama kurang lebih setahun.

Pada tanggal 17 Agustus 2008, tepat di Hari Kemerdekaan ke-63, Annisa melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Almira Tunggadewi Yudhoyono melalui operasi caesar


Prestasi dan Penghargaan Annisa Pohan:

    * Juara 3 GADIS Sampul 1997.
    * Gadis Shampo 2001
    * Tiara Sunsilk 2001


Referensi:

http://profilseleb.blogspot.com/2010/01/annisa-pohan-profil.html
http://selebriti.kapanlagi.com/annisa_pohan/

Biografi Selo Soemardjan

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Selo Soemardjan

Selo Soemardjan lahir pada tanggal 23 mei 1915. Beliau adalah guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, pakar ilmu sosiologi dengan reputasi International. Soemardjan dilahirkan di Yogyakarta. Setelah menyelesaikan HIS dan MULO di kota kelahirannya, Ia meneruskan ke MOSVIA di Magelang (1934) dan Universitas Cornell, Ithaca, New York.

Gelar sarjana dan doktor dari perguruan tinggi terkenal ini diraihnya pada tahun 1959. Disertai doktornya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "Perubahan Sosial di Yogyakarta" . Prof. Dr. Selo Soemardjan menerima tiga satya lencana dari Pemerintah Republik Indonesia. Ia juga menerima penghargaan Groot Officiier tingkat Kroonorde dari belgia pada tahun 1970.

Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia

Biografi Putri Titian

Posted by Biografi | Profil | Biodata Saturday, 20 February 2010 0 comments
Biografi Putri Titian

Nama Lengkap: Putri Titian Asih
Jenis Kelamin: Perempuan
Tanggal Lahir: Palembang, 07 April 1991



Putri Titian Asih atau biasa dipanggil  Tian adalah seorang bintang akting pendatang baru di dunia sinetron Indonesia. Titian terkenal dengan aktingnya dalam mini seri Jungkir Balik Dunia Sissy.

Selain itu, Putri, demikian dia juga dipanggil, pernah tampil membintangi Film Televisi (FTV) Ajari Aku Cinta, bersama Gita Gutawa. Disusul kemudian sinetron lajutan Jungkir Balik Dunia Sissy, Dunia Sissy Jungkir Balik Lagi.

Putri juga dikenal sebagai bintang iklan sejumlah produk, termasuk di antaranya, produk untuk Chiki JetZet dan Pepsodent Extra.

Pendukung FTV Jomblo So What Gitu Loh ini terlahir di Palembang, 7 April 1991, tercatat sebagai siswi SMA Negeri 4 Gambir, Jakarta Pusat.

Referensi: http://selebriti.kapanlagi.com/putri_titian/

Biografi Putri Patricia

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Putri Patricia

Nama Lengkap: Patricia Ayu Dewayani
Jenis kelamin: Perempuan
Tanggal Lahir: Jakarta, 24 Mei 1980


Patricia Ayu Dewayani biasa dipanggil Putri Patricia lahir pada tanggal 24 Mei 1980 di Jakarta. Dia merupakan aktris sinetron dan film layar lebar (bioskop).

Putri dari pasangan Raden Wisnu Wijaya dan Virginie Aryanie pernah membintangi sinetron Dewi Fortuna, Tersanjung 6, Culunnya Pacarku,, Kau Masih Kekasihku, Rahasia Pelangi, Aku Bukan Untukmu, Pintu Hidayah dan Sebatas Aku Mampu.

Selain itu, dia juga pernah membintangi film horor, ROH (2006), yang dibintanginya bersama Ryan Delon.

Pengalaman buruk dengan sebuah PH, membuat Putri kapok bermain sinetron. Oleh karenanya, untuk sementara waktu ia akan vakum dulu dari bermain sinetron.


Referensi: http://selebriti.kapanlagi.com/putri_patricia/

Biografi Kaisar Hirohito

Posted by Biografi | Profil | Biodata 0 comments
Biografi Kaisar Hirohito

Hirohito dilahirkan di Puri Aoyama, Tokyo pada tanggal 29 April 1901. anak pertama dari Kaisar Yoshihito (Taisho) dan Ratu Sadako (Teimei), dan kakak dari Pangeran Yasuhito Chichibu (1903-1953), Pangeran Nobuhito Takamatsu(1905-1987) serta Pangeran Takahito Mikasa (1915- ). Sebelum naik takhta ia dikenal sebagai Pangeran Michi (Michi-no-Miya). Masa kekuasaannya sebagai kaisar dikenal sebagai era Showa yang berarti damai, cerah budi. Namun ironisnya, justru pada saat itu, Jepang terlibat perang melawan RRC dan akhirnya dalam Perang Dunia II. Di Indonesia, ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945) Hirohito dikenal sebagai Tenno Heika yang berarti "Yang Mulia Kaisar".


Hirohito mengenyam pendidikan awal di Gakushuin Peer's School dari April 1908 hingga April 1914, kemudian mendapatkan pendidikan khusus untuk putra mahkota (Togu-gogakumonsho) di Istana Akasaka dari tahun 1914 sampai Februari 1921. Mendapatkan karir sebagai letnan and sub-lieutnant (1st class) 9 Desember, 1912 pada Angkatan Darat Kekaisaran, kapten dan letnan (31 Oktober 1916, mayor dan wakil komandan (31 Oktober 1920)letnan kolonel dan komandan (31 oktober] 1923) dan kolonel dan komandan Angkatan Laut Kekasairan (Kaigun) (31 Oktober 1924). Ia diangkat menjadi putra mahkota secara resmi pada tanggal 16 November 1916. Pada tahun 1922 ia mengadakan kunjungan ke Inggris dan sejumlah negara negara Eropa. Kunjungan ini dianggap kelompok sayap kanan kontroversial sehingga menewaskan Perdana Menteri Hamaguchi.

Hirohito memiliki pengetahuan tentang penelitian biologi laut dan beberapa hasil penelitiannya dituangkan dalam sejumlah buku di antaranya The Opisthobranchia of Sagami Bay dan Some Hydrozoans of the Amakusa Islands.

Hirohito menikah dengan Putri Nagako, putri sulung Pangeran Kuniyoshi pada tanggal 26 Januari] 1924 dan dikaruniai 7 orang anak, Putri Teru Shigeko (1925-1961, Putri Hisa Sichiko(1927-1928), Putri Taka Kazuko (1929-1989), Putri Yori Atsuko(1931- ), Pangeran Akihito (1933- ), Pangeran Hitachi Masahito (1935 - ), Putri Suga Takako (1939 - ).

Ia dinobatkan menjadi kaisar pada tanggal 25 Desember 1926 setelah ayahnya Kaisar Taisho meninggal, dilantik secara resmi 10 November, 1928, di Kyoto.

Pada masa ia bertakhta, Hirohito menyaksikan pertentangan di dalam negeri dan peperangan yang diawali dengan kericuhan di dalam negeri akibat pertentangan antara kelompok moderat dengan golongan kanan ulranasionalis yang disokong militer khususnya Angkatan Darat sebagai kekuatan terbesar pada saat itu. Akibatnya sejumlah pejabat tinggi, pengusaha dan tokoh-tokoh penting negara terbunuh dan puncaknya adalah insiden militer 26 Februari 1936, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Saburo Aizawa serta 1500 prajurit. Peristiwa ini juga melibatkan pangeran Yashuhito Chichibu sehingga Kaisar Hirohito sendiri turun tangan dan memerintahkan pasukan Angkatan Bersenjata kekaisaran untuk menyelesaikan hal ini dan memastikan loyalitas dari seluruh keluarga kekaisaran. Meskipun demikian diam-diam insiden ini "direstui" oleh kalangan pimpinan Angkatan Darat terutama dari kalangan ultranasionalis. Oleh karena itu pada tahun 1930, klik ultranasionalis dan militer menguasai pimpinan pemerintahan.

Akhirnya, pada masanya Jepang tercatat terlibat peperangan di antaranya Insiden Manchuria 1931, Insiden Nanking 1937, dan Perang Dunia II dengan melancarkan serangan atas Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour 9 Desember 1941.

Setelah Perang Asia (Dai Toa Senso) selesai, banyak desakan agar kaisar Hirohito diadili sebagai penjahat perang. Ada banyak keterangan kontroversial mengenai keterlibatannya dalam perang baik sebelum maupun pada saat Perang Dunia II. Di antaranya adalah David Bergammi dalam bukunya Japan Imperial Conspiracy yang mengatakan bahwa kaisar terlibat dalam perencanaan perang. Namun banyak pula yang tidak setuju dengan alasan bahwa dia hanyalah sebagai simbol dan pemimpin agama sebagaimana kaisar-kaisar periode sebelumnya Shogun sekalipun pada saat itu berkedudukan sebagai komando tertinggi.

Menteri Peperangan Amerika Serikat Henry Stimson mengatakan "Tidak menurunkan kaisar Jepang dari takhtanya akan memudahkan proses penyerahan dan menghindarkan peperangan yang dapat merugikan khususnya pasukan pendudukan, yang kita lakukan terhadap Kaisar Jerman pasca Perang Dunia I sehingga publik menganggap kaisar Jerman adalah musuh, setan (devil), mengakibatkan kekosongan kekuasan dan tata pemerintahaan di wilayah itu sehingga memunculkan Adolf Hitler".

Sekalipun banyak desakan dari berbagai pemimpin dunia agar Kaisar Hirohito diadili, termasuk diantaranya Presiden Amerika Serikat Harry S Truman meskipun akhirnya Presiden Trumman setuju untuk mempertahankan kedudukan kaisar. Panglima pendudukan, Jendral Douglas McArthur juga tetap menempatkan Hirohito pada tahtanya sebagai simbol dan memperlancar pembangunan kembali Jepang dan simbol keterpaduan Kaisar dengan rakyatnya terutama pada masa pendudukan. Kedudukan Kaisar pada takhtanya didasarkan pada konstitusi baru yang diterapkan 3 Mei 1947 yang dinamakan Konstitusi Jepang 1947 atau konstitusi pasca perang yang menetapkan kaisar sebagai lambang atau simbol dan kepala negara sebagaimana kerajaan atau monarki konstitusional. Konstitusi ini menggantikan Konstitusi Jepang 1889 pada era Meiji dimana kaisar sebagai pemegang komando dan kekuasaan tertinggi.

Kaisar Hirohito menyaksikan kemajuan pembangunan Jepang pasca-perang. Ia mengunjungi kembali beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat dan bertemu Presiden Richard Nixon pada tahun 1971.

Kaisar Hirohito meninggal pada tanggal 7 Januari 1989 akibat penyakit kanker usus dua belas jari (duodenum) yang dideritanya. Pemakaman kenegaraannya dihadiri oleh para pemimpin dunia di antaranya Presiden Amerika Serikat George Bush, Presiden Perancis Francois Mitterand, HRH Duke of Edinburgh dari Inggris, dan Raja HM Baudouin dari Belgia, pada tanggal 24 Februari 1989. Jenazahnya dimakamkan di Mausoleum Kekaisaran Musashino, di samping makam Kaisar Taisho. Kedudukannya digantikan oleh Putra Mahkota Akihito.

Referensi  http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/12/biografi-kaisar-hirohito.html